Showing posts with label Penelitian tindakan kelas. Show all posts
Showing posts with label Penelitian tindakan kelas. Show all posts

Friday, March 17, 2017

Inti Sari Penelitian Tindakan Kelas

INTI SARI
PENELITIAN TINDAKAN KELAS ATAU CLASSROOM ACTION RESEARCH


Setelah mempelajari ini guru atau calon guru diharapkan dapat :

1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan jenis penelitian tindakan kelas.

2. Menyebutkan prinsip, karakteristik, tujuan, dan manfaat penelitian tindakan kelas.

3. Menjelaskan perbedaan penelitian tindakan kelas dengan penelitian konvensional.

4. Mendeskripsikan langkah-langkah penelitian tindakan kelas.

A. PENELITIAN TINDAKAN KELAS

1. Pengertian Penelitian tindakan
Penelitian tindaklan kelas adalah penelitian dari, oleh, dan untuk guru dengan tujuan untuk meningkatkan keprofesionalan guru.
PTK dapat pula diartikan sebagai “penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara lebih professional”.
Pelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat guru mengajar dengan tujuan perbaikan dan/atau peningkatan kualitas proses dan praktik pembelajaran.

2. Prinsip Penelitian Tindakan Kelas

Ada 7 (tujuh) prinsip PTK , yaitu:
a.Pelaksanaan penelitian tidak boleh mengganggu atau menghambat kegiatan pembelajaran.
b.Metodologi yang digunakan harus terencana dengan cermat sehingga tindakan dapat dirumuskan dalam suatu hipotesis tindakan yang dapat diuji di lapangan.
c.Masalah yang dipilih harus menarik, nyata, tidak menyulitkan, dapat dipecahkan, berada dalam jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan dan peneliti merasa terpanggil untuk meningkatkan diri.
d.Pegumpulan data tidak mengganggu atau menyita waktu terlalu banyak.
e.Metode dan teknik yang digunakan tidak terlalu menuntut baik dari kemampuan guru itu sendiri ataupun segi waktu.
f.Harus memperhatikan etika penelitian, tatakrama penelitian, dan rambu-rambu pelaksanaan yang berlaku umum seperti yang diteliti harus dihormati kerahasiannya, semua yang terkait setuju dengan prinsip-prinsip penelitian, harus ada laporan, dan lain-lain.
g.Kegiatan penelitian pada dasarnya harus merupakan gerakan yang berkelanjutan (on-going), karena cakupan peningkatan dan pengembangan sepanjang waktu menjadi tantangan.

3. Karakteristik Penelitian Tindakan Kelas
a.Bersifat situasional, artinya masalah diangkat dari praktik pembelajaran keseharian yang benar-benar dirasakan oleh guru, peserta didik, atau keduanya dan kemudian diupayakan peneyelsaiannya melalui penelitian.
b.Merupakan upaya kolaboratif antara guru dengan peserta didiknya atau antara guru dengan kepala sekolah, yaitu suatu kerja sama dengan perspektif berbeda.
c.Bersifat self-evaluatif yaitu kegiatan yang dilakukan secara kontinu, dievaluasi dalam proses, dan bertujuan untuk perbaikan dan/atau peningkatan praktik pembelajaran.
d.Bersifat luwes dan selalu dapat disesuaikan.
e.Mengutamakan data pengamatan dan perilaku empiris pembelajaran
f.Agak longgar, artinya tidak seketat penelitian eksperimen yang sebenarnya. Sifat sasarannya situasional-spesifik, artinya sasarannya dapat berubah disesuaikan dengan keadaan. Sampel terbatas dan tidak representatif sehingga hasilnya tidak dapat digeneralisasikan, artinya hanya berlaku bagi guru yang bersangkutan.

4. Tujuan Penelitian Tindakan Kelas
a.Untuk perbaikan dan/atau peningkatan kualitas proses dan praktik pembelajaran secara berkesinambungan. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan refleksi, yaitu melakukan analisis, sintesis, interpretasi, eksplanasi, dan kesimpulan
b.Pengembangan kemampuan dan keterampilan guru untuk menghadapi permasalahan aktual pembelajaran di kelasnya atau di sekolahnya.
c.Menumbuhkan budaya meneliti di kalangan guru dan pendidik

5. Manfaat Penelitian Tindakan Kelas
a.Guru makin profesional oleh karena guru terbiasa melakukan penelitian sehingga guru makin percaya diri, mandiri, dan berani mengambil risiko dalam melakukan pembaharuan.
b.Guru lebih berani dalam penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu silabus dan Rencana Pembelajaran Pembelajaran (RPP) mata pelajaran yang diampu dan lebih bersifat mandiri.

Tabel 1. Perbedaan antara PTK dengan Penelitian Konvensional





C. MODEL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

a.Model Kurt Lewin

Menurut model ini, PTK terdiri atas empat komponen atau tahap, yaitu (1) perencanaan (planning), (2) tindakan (action), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting).






2. Model Kemmis dan McTaggart
•Model ini merupakan pengembangan model pertama, dalam model ini komponen tindakan dan pengamatan dijadikan satu, dengan alasan keduanya dalam praktik tidak dapat dipisahkan.



D. LANGKAH-LANGKAH Penelitian Tindakan Kelas
•Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru, kebanyakan menggunakan model pertama atau kedua, oleh karena model tersebut sederhana dan telah memenuhi keperluan yang dituju. Langkah-langkah yang seharusnya diikuti adalah sebagai berikut:

Ide awal
•Guru yang akan melaksanakan PTK pasti sudah mempunyai ide atau gagasan awal tentang penelitian yang akan dilakukan. Ide awal dalam PTK selalu berkaitan dengan masalah pelaksanaan praktik pembelajaran di dalam kelas dan guru berkehendak untuk mencari jawabannya melalui PTK. Apa yang akan diperbuat oleh guru dengan PTK, itulah ide awal dari kegiatan ini.

a. Prasurvei atau temuan awal
•Prasurvei perlu dilakukan bila guru akan melaksakan PTK di sekolah lain yang bukan di kelas yang selama ini diajar. Dalam hal PTK dilakukan di kelasnya sendiri guru tidak perlu melakukan prasurvei. Guru sudah memahami betul situasi dan kondisi kelasnya sendiri. Masalah-masalah yang berkaitan dengan kemajuan belajar peserta didik, sarana/ prasarana, dan sikap peserta didiknya guru sudah paham benar.

b. Diagnosis
•Guru yang akan melakukan PTK di kelas lain di sekolahnya perlu melakukan diagnosis, yaitu menentukan kelemahan-kelemahan apa yang terjadi di kelas tersebut, dalam kaitannya dengan PTK yang akan dilakukan. Guru yang akan melaksanakan PTK di kelasnya hal ini tidak pertlu.

c. Perencanaan
•Ada dua jenis perencanaan, yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum berkaitan dengan rencana pelaksanaan PTK secara menyeluruh. Pelaksanaan khusus berkaitan dengan rencana kegiatan setiap siklus, yang tiap kali harus dilakukan perencanaan ulang.
•Perencanaan khusus yaitu rencana pada setiap sklus berkaitan dengan rencana pembelajaran di kelas, seperti metode pembelajaran, media pembelajaran, materi pembelajaran, dsb. Dalam hal ini guru perlu menyiapkan silabus dan Rencana Pelaksanaa Pembelajaran (RPP).

d. Implementasi Tindakan
•Implementasi tindakan merupakan realisasi dari tindakan yang telah direncanakan, yang berbentuk satuan pembelajaran dan rencana pembelajaran.

e. Observasi
•Observasi atau monitoring dapat dilakukan sendiri oleh guru atau kolaborator. Hal yang harus dicatat saat observasi atau monitoring adalah semua hal yang terjadi di kelas penelitian, seperti mengenali kinerja guru, situasi kelas, perilaku dan sikap peserta didik, penyajian materi, dan penyerapan peserta didik terhadap materi. Pencatatan dilakukan dengan instrumen penelitian yang telah disiapka.

f. Refleksi
•Refleksi adalah upaya evaluasi yang dilakukan oleh kolaborator atau partisipan yang terkait dengan suatu PTK yang dilaksanakan. Refleksi dilakukan dengan cara kolabotatif, yaitu dengan melakukan distusi terhadap berbagai masalah yang terjadi di kelas peneliti-an. Refleksi dilakukan setelah implementasi tindakan dan hasil observasi. Berdasarkan refleksi ini dilakukan perbaikan tindakan (replanning) untuk siklus berikutnya.

g. Penyusunan Laporan
•Laporan penelitian tindakan kelas disusun setelah penelitian tindakan kelas selesai dengan menggunakan format yang telah ditetapkan. Laporan berisi lima bab, yaitu (I) Pendahuluan, (II) Kajian Pustaka, (III) Metode Penelitian, (IV) Hasil Penelitian dan Pembahasan, dan (V) Kesimpulan dan Rencana Tindak Lanjut.




Tuesday, November 8, 2016

Penelitian Tindakan Kelas


PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) (CLASSROOM ACTION RESEARCH)



#
A. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas (PTK


Penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada suatu kelompok subyek (kelas) yang diteliti dan mengamati tingkat keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang lebih baik. Tindakan kelas di kalangan pendidikan dapat diterapkan pada sebuah kelas sehingga sering disebut Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research), bila yang melakukan tindakan adalah kepala sekolah atau pimpinan lain maka disebut penelitian tindakan. Dalam kaitannya dengan istilah Penelitian Tindakan Kelas, di situ terdapat tiga kata yang membentuk pengertian tersebut, yaitu


· Penelitian-menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara-cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.


· Tindakan--- menunjuk pada sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan.


· Kelas - dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan ‘kelas' adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama juga.


Dengan menggabungkan batasan pengertian tiga kata inti, yaitu (1) penelitian, (2) tindakan, dan (3) kelas, segera dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa. Kesalahan umum yang terdapat dalam penelitian tindakan guru adalah penonjolan tindakan yang dilakukannya sendiri, misalnya guru memberikan tugas kelompok kepada siswa. Pengutaraan kalimat seperti itu kurang pas. Seharusnya guru menonjolkan kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa, misalnya siswa mengamati proses mencair es yang ditempatkan di panci tertutup dan panci terbuka, atau di dalam gelas. Siswa juga diminta membandingkan dan mencatat hasilnya. Dengan kata lain, guru melaporkan berlangsungnya proses belajar yang dialami oleh siswa, perilakunya, perhatian mereka pada proses yang terjadi, dan sebagainya. Artinya siswa belajar melalui objek belajar yang sedang dikaji.



B. Prinsip-prinsip Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Agar peneliti memperoleh informasi atau kejelasan tetapi tidak menyalahi kaidah yang ditentukan, perlu kiranya difahami bersama prinsip-prinsip yang harus dipenuhi apabila sedang melakukan penelitian tindakan kelas. Adapun prinsip-prinsip dimaksud adalah sebagai berikut.


1. Kegiatan nyata dalam situasi rutin


Penelitian tindakan dilakukan oleh peneliti tanpa mengubah situasi rutin. Mengapa? Jika penelitian dilakukan dalam situasi lain, hasilnya tidak dapat dijamin akan dapat dilaksanakan lagi dalam situasi aslinya. Oleh karena itu penelitian tindakan kelas tidak perlu mengadakan waktu khusus, tidak mengubah jadwal yang sudah ada.


2. Adanya kesadaran untuk memperbaiki diri


Penelitian tindakan kelas didasarkan atas sebuah filosofi bahwa setiap manusia tidak suka atas hal-hal yang statis, tetapi selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik. Peningkatan diri untuk hal yang lebih baik ini dilakukan terus-menerus sampai tujuan tercapai, tetapi sifatnya hanya sementara, karena dilanjutkan lagi dengan keinginan untuk lebih baik yang datang susul menyusul. Dengan kata lain, penelitian tindakan dilakukan bukan karena ada paksanaan atau permintaan dari pihak lain, tetapi harus atas dasar sukarela, dengan senang hati, karena menunggu hasilnya yang diharapkan lebih baik dari hasil yang lalu, yang dirasakan belum memuaskan dan perlu ditingkatkan.


3. SWOT sebagai dasar berpijak penelitian tindakan kelas


Penelitian tindakan kelas harus dimulai dari melakukan analisis SWOT, terdiri dari unsur-unsur S (Strength) - kekuatan, W (Weaknesses) - kelemahan, O (Opportunity) - kesempatan, dan T (Threat) - ancaman. Empat hal tersebut dilihat dari sudut guru yang melaksanakan maupun siswa yang dikenai tindakan. Dengan berpijak pada hal-hal yang disebutkan, penelitian tindakan kelas dapat dilaksanakan hanya apabila ada kesejalanan antara kondisi yang ada pada guru dan juga pada siswa. Tentu saja pekerjaan guru sebelum menentukan jenis tindakan yang akan dicobakan, memerlukan pemikiran yang matang.


4. Upaya empirik dan sistemik melalui metode ilmiah


Prinsip keempat ini merupakan penerapan dari prinsip ketiga. Dengan telah dilakukannya analisis SWOT, tentu saja apabila guru melakukan penelitian tindakan kelas, sudah mengikuti prinsip empirik (terkait dengan pengalaman) dan sistemik melalui metode ilmiah, berpijak pada unsur-unsur yang terkait dengan keseluruhan sistem yang terkait dengan objek yang sedang digarap. Jika guru mengupayakan cara mengajar baru, harus juga memikirkan tentang sarana pendukung dan hal-hal yang terkait dengan cara baru tersebut.


5. Ikuti SMART dalam perencanaan


SMART adalah kata bahasa Inggris artinya cerdas, akan tetapi dalam proses perencanaan kegiatan merupakan singkatan dari lima huruf bermakna.


S - Specific, khusus, tidak terlalu umum


M- Managable, dapat dikelola, dilaksanakan


A - Acceptable, dapat diterima lingkungan, atau Achievable, dapat dicapai, dijangkau


R - Realistic, operasional, tidak di luar jangkauan dan


T - Time-bound, diikat oleh waktu, terencana


Ketika guru menyusun rencana tindakan, harus mengingat hal- hal yang disebutkan dalam SMART. Tindakan yang dipilih peneliti harus khusus, tidak sulit dilakukan, dapat diterima oleh subjek yang dikenai tindakan dan lingkungan, nyata bermanfaat bagi dirinya dan subjek yang dikenai tindakan. Selain itu yang sangat penting adalah bahwa tindakan tersebut sudah tertentu jangka waktunya. Penelitian tindakan dapat direncanakan dalam waktu satu bulan, satu semester, atau satu tahun.


6. Bukan seperti biasanya, tetapi harus cemerlang


Penelitian tindakan harus dapat menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan kepada siswa memang berbeda dari apa yang sudah biasa dilakukan. Sesuai dengan prinsip nomer 2, yaitu adanya kesadaran dan keinginan untuk meningkatkan diri, apa yang sudah ada, tindakan yang dilakukan harus berbeda dari biasanya, karena yang biasa sudah jelas menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh karena itu guru melakukan tindakan yang diperkirakan dapat memberikan hasil yang lebih baik.


7. Terpusat pada proses, bukan semata-mata hasil


Penelitian tindakan kelas merupakan kegiatan yang dilakukan oleh guru atau peneliti untuk memperbaiki atau meningkatkan hasil, dengan mengubah cara, metode, pendekatan atau strategi yang berbeda dari biasanya. Cara, metode, pendekatan atau strategi tersebut berupa proses yang harus diamati secara cermat, dilihat kelancarannya, kesesuaian dengan dan penyimpangannya dari rencana, kesulitan atau hambatan yang dijumpai, dan lain-lain aspek yang berkaitan dengan proses. Sejauh mana proses ini sudah memenuhi harapan, lalu dikaitkan dengan hasil setelah satu atau dua kali tindakan berakhir. Dengan kata lain, dalam melaksanakan penelitian tidakan kelas, peneliti tidak harus selalu berpikir dan MENGEJAR HASIL, tetapi mengamati proses yang terjadi. Hasil yang diperoleh merupakan DAMPAK dari prosesnya.


C. Model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Ada beberapa ahli yang mengemukakan model penelitian tindakan kelas (PTK), namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Adapun model dan penjelasan untuk masing-masing tahap adalah sebagai berikut.


Tahap 1: Menyusun rancangan tindakan


Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalannya tindakan. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Dengan mudah dapat diterima bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti dibanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya.


Tahap 2: Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas


Tahap ke-2 dari penelitian tindakan kelas adalah pelaksanaan, yaitu implementasi atau penerapan isi rancangan di dalam kancah, yaitu mengenakan tindakan di kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap 2 ini pelaksana guru harus ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan.


Tahap 3: Pengamatan


Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap 2 diberikan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang berstatus juga sebagai pengamat. Ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan, karena hatinya menyatu dengan kegiatan, tentu tidak sempat menganalisis peristiwanya ketika sedang terjadi. Oleh karena itu kepada guru pelaksana yang berstatus sebagai pengamat ini untuk melakukan "pengamatan balik" terhadap apa yang terjadi ketika tindakan berlangsung. Sambil melakukan pengamatan balik ini guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi.


Tahap 4: Refleksi


Tahap ke-4 ini merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah "refleksi" dari kata bahasa Inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sebetulnya lebih tepat dikenakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini sama dengan "memantul-seperti halnya memancar dan menatap kena cermin", yang dalam hal ini guru pelaksana sedang memantulkan pengalamannya pada peneliti yang baru saja mengamati kegiatannya dalam tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan kelas, yaitu ketika guru pelaku tindakan mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-hal yang dirasakan sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum. Apabila guru pelaksana juga berstatus sebagai pengamat, maka refleksi dilakukan terhadap diri sendiri. Dengan kata lain guru tersebut melihat dirinya kembali, melakukan "dialog" untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan hati karena sudah sesuai dengan rancangan dan mengenali hal-hal yang masih perlu diperbaiki.


Keempat tahap dalam penelitian tindakan kelas tersebut adalah unsur untuk membentuk sebuah siklus, yaitu satu putaran kegiatan beruntun, dari tahap penyusunan rancangan sampai dengan refleksi, yang tidak lain adalah evaluasi. Apabila dikaitkan dengan "bentuk tindakan" sebagaimana disebutkan dalam uraian ini, maka yang dimaksud dengan bentuk tindakan adalah siklus tersebut. Jadi bentuk penelitian tindakan kelas tidak pernah merupakan kegiatan tunggal tetapi selalu berupa rangkaian kegiatan yang akan kembali ke asal, yaitu dalam bentuk siklus.

D. Persyaratan Penelitian Tindakan Kelas oleh Guru


Beberapa hal di bawah ini antara lain merupakan persyaratan untuk diterimanya laporan penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh guru.

Penelitian tindakan kelas harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi didalam pembelajaran, dan berguna untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penelitian tindakan kelas oleh guru menuntut dilakukannya pencermatan secara terus-menerus, objektif, dan sistematis, artinya dicatat atau direkam dengan baik sehingga diketahui dengan pasti tingkat keberhasilan yang diperoleh peneliti serta penyimpangan yang terjadi; hasil pencermatan tersebut akan menetukan tindak lanjut yang harus diambil segera oleh peneliti.
Penelitian tindakan kelas harus dilakukan sekurang-kurangnya dalam dua siklus tindakan yang berurutan; informasi dari siklus yang terdahulu sangat menentukan bentuk siklus berikutnya. Oleh karena itu siklus yang kedua, ketiga dan seterusnya tidak dapat dirancang sebelum siklus pertama terjadi. Hasil refleksi harus tampak digunakan sebagai bahan masukan untuk perencanaan siklus berikutnya.
Penelitian tindakan kelas terjadi secara wajar, tidak mengubah aturan yang sudah ditentukan, dalam arti tidak mengubah jadwal yang berlaku. Tindakan yang dilakukan tidak boleh merugikan siswa, baik yang dikenai atau siswa lain. Makna dari kalimat ini adalah bahwa tindakan yang dilakukan guru tidak hanya memilih anak-anak tertentu, tetapi harus semua siswa dalam kelas.
Penelitian tindakan kelas disadari betul oleh pelakunya, sehingga yang bersangkutan dapat mengemukakan kembali apa yang dilakukan, baik mengenai tindakan, suasana ketika terjadi, reaksi siswa, urutan peristiwa, hal-hal yang dirasakan sebagai kelebihan dan kekurangan dibandingkan dengan rencana yang sudah dibuat sebelumnya.



E. Sasaran atau objek penelitian tindakan kelas



Hal-hal yang dapat diamati sehubungan dengan setiap unsur pembelajaran tersebut antara lain adalah sebagaimana disajikan dalam bagian berikut. Sesuai dengan prinsip bahwa ada tindakan dirancang sebelumnya maka objek penelitian tindakan kelas harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktivitas, bukan objek yang sedang diam dan tanpa gerak. Unsur siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas/lapangan/laboratorium atau bengkel, maupun ketika sedang asyik mengerjakan tugas, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bhakti di luar sekolah.
Unsur guru, dapat dicermati ketika yang bersangkutan sedang mengajar di kelas, sedang membimbing siswa-siswa yang sedang berdarmawisata., atau ketika guru sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
Unsur materi pelajaran, dapat dicermati urutan materi tersebut ketika disajikan kepada siswa, meliputi pengorganisasiannya, cara penyajiannya, atau pengaturannya.
Unsur peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas.
Unsur hasil pembelajaran, yang ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus di capai melalui pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk yang harus ditingkatkan, pasti terkait dengan tindakan unsur lain. Unsur lingkungan, baik lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa dirumahnya. Informasi tentang lingkungan ini dikaji bukan untuk dilakukan camput tangan, tetapi digunakan sebagai pertimbangan dan bahan untuk pembahasan.
Unsur pengelolaan, yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk tindakan. Yang digolongkan sebagai kegiatan pengelolaan misalnya cara mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan urutan jadwal, pengaturan, tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa dan sebagainya.

F. Laporan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)


Selanjutnya apabila guru pelaksana penelitian tindakan kelas sudah merasa puas dengan siklus-siklus itu, tentu saja langkah berikutnya tidak lain adalah menyusun laporan kegiatannya. Proses penyusunan laporan ini tidak akan dirasakan sulit apabila sejak awal guru sudah disiplin mencatat apa saja yang sudah ia lakukan.


Membuat karya tulis ilmiah laporan penelitian sebetulnya akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis artikel, karena lahan tulisan akan sudah dipenuhi dengan penjelasan tentang alasan, tujuan, manfaat dan isi penelitian, kemudian cerita tentang tindakan dengan siklus-siklusnya. Pada akhir tulisan tinggal disampaikan hasil penelitian tindakan kelas, yaitu keberhasilan yang diperoleh dan hambatan atau kesulitan dalam pelaksanaan, ditutup dengan rekomendasi atau saran.


Sistematika laporan penelitian tindakan kelas tidak jauh berbeda dengan laporan penelitian yang lain. Satu hal yang sangat dicermati oleh penilai adalah bagaimana siklus dilaksanakan, dan penjelasan tentang proses yang berlangsung. Kesalahan umum yang terjadi, guru hanya menyebutkan sangat sedikit tentang tindakan yang dilakukan, dan langsung menunjukkan data yang dikumpulkan melalui tes. Hasil tes antar siklus dibandingkan dengan atau tanpa rumus, kemudian disimpulkan. Dalam penelitian tindakan ini guru tidak diharuskan menonjolkan analisis data, tetapi seperti sudah dikemukakan di depan, sangat menekankan proses atau tindakan yang diberikan pada peneltian tindakan kelas.

Sunday, January 26, 2014

Definisi Pengertian Penelitian Tindakan Kelas

Awal perkembangan penelitian tindakan kelas.

Penelitian kualitatif dalam bidang pendidikan berkembang sangat pesat melalui berbagai kajian permasalahan pendidikan. Metode-metode, teori-teori ataupun hasil-hasil penelitian telah terakumulasi sehingga membentuk tradisi penelitian yang semakin kompleks.

Selanjutnya penelitian kualitatif berkembang menjadi cabang-cabang spesialisasi seperti etnografi atau fenomenologi (creswell, 1998), grounded teori, penelitian sejarah dan masih banyak cabang ilmu lainnya.

Salah satu bentuk kajian inkuiri yang termasuk penelitian kualitatif adalah penelitian emansipatoris tindakan (emancipatory action research) (Borg dan Gall,2003) yang merupakan studi mikro untuk membangun ekspresi kongkrit dan praktis aspirasi perubahan di dunia sosial atau pendidikan untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja kualitas para praktisinya.

Penelitian emansipatoris tindakan ini, pemakaian atau penamaannya berbeda-beda, misalnya penelitian kelas (classroom research) karena penelitian ini bertujuan untuk perubahan atau perbaikan diruang kelas (Hopkins, 1993). Hopkins menggunakan istilah classroom research in action atau classroom action research. Kemmis (1993) menggunakan istilah educational action research untuk jenis penelitian tindakan yang digunakan untuk menghadapi berbagai masalah dan isu pendidikan. Dalam penelitian pendidikan istilah yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas atau disingkat PTK.

Apa yang disebut penelitian tindakan kelas (PTK)?
Ada banyak persoalan yang dihadapi oleh guru pada waktu ia mengajar di kelas. Berbagai solusi atau penyelesaian masalah juga telah banyak dibahas dalam berbagai telaah penelitian akademik, baik dalam laporan penelitian berbentuk artikel jurnal, skripsi, tesis, ataupun disertasi. Akan tetapi guru sulit memahaminya, apalagi menerapkannya dalam pembelajaran sehari-hari, terutama karena berbagai kendala. Misalnya tidak semua guru memahami teori-toeri yang menjadi landasan ilmiah dan laandasan metodologi atau instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian tersebut.

Pengertian penelitian tindakan kelas, untuk mengidentifikasi penelitian kelas, adalah penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif , suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang sedang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan (Hopkins, 1993).

Rapoport (1970) mengartikan penelitian tindakan kelas untuk membanu guru mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial atau pendidikan dengan kerjasama dalam kerangka etika yang disepakati bersama.

Kemmis (1983) menjelaskan bahwa penelitian tindakan adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial tertentu (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari a) kegiatan praktek sosial atau pendidikan, b) pemahaman guru mengenai kegiatan-kegiatan praktek pendidikan, c) situasi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan praktek ini.

Ebbutt (1995) mengemukakan penelitian tindakan adalah kajian sistematik dari upaya perbaikan pelaksanaan praktek pendidikan oleh sekelompok guru dengan melakukan tindakan-tindakan dalam pembelajaran, berdasarkan refleksi mereka mengenai hasil dari tindakan - tindakan tersebut.

Elliot (1991) mendefinisikan penelitian tindakan sebagai kajian dari sebuah situasi sosial dengan kemungkinan tindakan untuk memperbaiki kualitas situasi sosial tersebut.

Rumusan masalah penelitian tindakan kelas.
Bagaimana sekelompok guru dapat mengorganisasikan kondisi praktek pembelajaran mereka, dan belajar dari pengelaman mereka sendiri?
Bgaimana mereka dapat mencobakan sesuatu gagasan perbaikan dalam praktek pembelajaran mereka, dan melihat pengaruh ntata dari upaya tindakan itu?


Saturday, March 9, 2013

Contoh-contoh penelitian tindakan kelas


Contoh-contoh penelitian tindakan kelas

1. Upaya Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar Negeri 1 Palangka Palangka Raya Melalui Pendekatan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD 

2. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu Model Webbed untuk IPA SD dengan Tema Sumber Energi dalam Kehidupan Sehari-hari.

3. Penyelesaian masalah dalam pembelajaran IPA SD sebagai Sarana Pengembangan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi.