Showing posts with label penelitian deskriptif. Show all posts
Showing posts with label penelitian deskriptif. Show all posts

Wednesday, March 14, 2018

Rancangan Penelitian Deskriptif

Tujuan Penelitian Deskriptif

Menurut *Borg dan Gall (2003), penelitian dalam bentuk yang paling dasar melibatkan deskripsi alam atau fenomena buatan manusia, berupa tindakan, perubahan dari waktu ke waktu, dan persamaan/kemiripan dengan fenomena lain. Para ilmuwan telah membuat banyak penemuan penting melalui upaya mereka untuk menggambarkan/mendeskripsikan fenomena tertentu. misalnya, para astronom telah menggunakan teleskop untuk mengembangkan deskripsi bagian yang berbeda dari alam semesta. Penelitian ini telah memberikan dasar bagi banyak penemuan lainnya, seperti struktur tata surya kita dan kemampuan untuk memprediksi kejadian bintang seperti gerhana bulan.


Penelitian deskriptif juga sama pentingnya dalam pendidikan. Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian kuantitatif yang melibatkan pembuatan deskripsi tentang fenomena pendidikan. Seperti yang akan Anda lihat dalam Bagian V dari buku *Borg and Gall (2003), deskripsi-dipandang sebagai memahami apa yang orang atau hal-hal berarti-juga merupakan tujuan penting dari penelitian kualitatif, untuk alasan ini, ketika merencanakan studi penelitian deskriptif. Anda harus terbiasa dengan kedua pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk deskripsi sehingga Anda memilih pendekatan yang paling sesuai dengan tujuan Anda.

Studi deskriptif menaruh keprihatinan terutama dengan memilih peristiwa/kejadian/fenomena "apa adanya". Contoh pertanyaan yang mungkin dipelajari dalam studi penelitian deskriptif adalah: Berapa banyak guru kimia di Palangka Raya memiliki sikap yang menguntungkan terhadap instruksi kurikulum 2013? Apa jenis kegiatan yang biasanya terjadi di kelas X kimia, dan berapa sering masing-masing kegiatan dilakukan atau tidak dilakukan? Apa yang telah menjadi reaksi dari tenaga kependidikan sekolah untuk inovasi dalam mengajar ilmu kimia? Telahkah buku pelajaran kimia kelas X, XI dan XII berubah dalam hal isi bacaan selama 10 tahun terakhir?

Kebanyakan penelitian pendidikan memiliki kecenderungan kuat ke arah menemukan hubungan efek sebab - akibat, dan pengujian metode pembelajaran baru dan program baru. Namun, kecuali para peneliti pertama menghasilkan deskripsi akurat tentang fenomena pendidikan seperti yang ada, mereka tidak memiliki dasar yang kuat untuk menjelaskan atau mengubahnya. Beberapa istilah/sebutan yang paling berpengaruh untuk reformasi sistem pendidikan telah menggunakan temuan penelitian deskriptif, biasanya didasarkan pada data pengamatan yang menarik, untuk membuat kasusnya. 

Beberapa penelitian deskriptif melibatkan terutama penggunaan kuesioner atau wawancara dengan sampel dari peserta penelitian. Jenis penelitian ini (kadang-kadang disebut penelitian survei) yang telah menghasilkan banyak pengetahuan berharga tentang pendapat, sikap, dan praktek. Pengetahuan ini telah membantu kebijakan pendidikan, baik bentuk maupun inisiatif untuk memperbaiki kondisi yang ada. 

Pengukuran dalam Penelitian Deskriptif
Studi penelitian deskriptif dibatasi oleh jenis dan kuantitas tindakan yang tersedia. Untuk alasan ini, banyak peneliti bekerja secara intensif pada pengembangan langkah-langkah baru atau menyempurnakan yang sudah atau telah dikembangkan orang lain untuk menggambarkan secara tepat dan akurat fenomena yang menarik bagi mereka. Langkah-langkah ini terdiri dari banyak jenis. termasuk, misalnya. tes prestasi standar, instrumen observasi kelas, skala sikap, kuesioner. dan wawancara. Jika Anda berencana untuk melakukan penelitian deskriptif dalam tradisi penelitian kuantitatif, Anda harus terbiasa dengan berbagai jenis tindakan penelitian yang dibahas dalam Bab 7 sampai 9 buku *Borg and Gall (2003). Statistik di Penelitian deskriptif untuk menggambarkan sampel secara keseluruhan, peneliti biasanya akan menentukan variabel, dan mengukurnya. Peneliti juga mungkin menghitung skor awal sebagai bantuan dalam menafsirkan skor sampel pada variabel-variabel yang diukur. Skor awal membantu intepretasi dengan menyediakan ukuran kuantitatif dari kinerja masing-masing individu relatif terhadap kelompok pembanding, misalnya, sampel normatif. Usia setara, kelas setara. persentil, dan skor standar adalah contoh dari nilai yang diperoleh yang umum digunakan dalam penelitian deskriptif. 

Beberapa penelitian deskriptif dimaksudkan untuk menghasilkan informasi statistik tentang aspek pendidikan bahwa para pembuat kebijakan dan pendidik. Pusat Nasional untuk Statistik Pendidikan mengkhususkan diri dalam jenis penelitian. Banyak temuannya dipublikasikan dalam volume tahunan yang disebut Statistik Pendidikan. Pusat ini juga mengelola Penilaian Pendidikan Nasional, yang mengumpulkan deskriptif dalam formasi tentang kinerja pemuda di berbagai usia di bidang subjek yang diajarkan di sekolah umum, Sebuah publikasi Nasional khas yang muncul secara berkala perlu untuk melaporkan statistik deskriptif tentang prestasi membaca siswa di beberapa kelas/tingkat. Pada skala besar, Asosiasi Internasional untuk Evaluasi Prestasi Pendidikan. (EEA) melakukan penelitian deskriptif prestasi akademik mahasiswa dari banyak negara, termasuk Indonesia. Dua jenis utama dari penelitian deskriptif ditemukan dalam literatur penelitian, berbeda terutama dalam waktu di mana variabel diukur. Tipe pertama melibatkan pengukuran karakteristik sampel pada satu titik waktu. Tipe kedua melibatkan penelitian longitudinal. Di mana sampel diikuti dari waktu ke waktu. Kita membahas masing-masing jenis penelitian deskriptif setelah ini. Tipe pertama melibatkan pengukuran karakteristik sampel pada satu titik waktu. Tipe kedua melibatkan penelitian longitudinal. Di mana sampel diikuti dari waktu ke waktu. 

*Educational Research An Introduction 7e 2003 Gall & Borg


Descriptive Research Design

The Purpose of Descriptive Rescarch

Research in its most basic form involves the description of natural or man-made phenomena— their form, actions, changes over time, and similarities with other phenomena. Scientists have made many important discoveries through their efforts to describe phenomena. for example, astronomers have used telescopes to develop descriptions of different parts of the universe. This research has provided the basis for many other discoveries, such as the structure of our solar system and the ability to predict such stellar events as lunar eclipses.

Descriptive reserch is similarly important in education. Descriptive research is a type of quantitative research that involves making careful descriptions of educational phenomena. As you shall see in Part V of the book. description—viewed as understanding what people or things mean—also is an important goal of qualitative research, Fur this reason. when planning a descriptive research study. you should be familiar with both the quantitative and qualitative approaches to description so that you choose the approach best suited to your purposes.

Descriptive studies are concerned primarily with determining "what is". Examples of questions that might be studied in a descriptive research study are: How many teachers in our state hold favorable attitudes toward whole-language instruction? What kinds of activities typically occur in sixth-grade art classes, and how frequently does each one occur? What have been the reactions of school administrators to innovations in teaching physical science? Have first-grade textbooks changed in readability over the last 50 years?

Most educational research has a strong inclination toward discovering cause-and- effect relationships and testing new instructional methods and programs. However, unless researchers first generate an accurate description of an educational phenomenon as it exists, they lack a firm basis for explaining or changing it. Some of the most influential call for reform of the educational system have used the findings of descriptive research, typically based on compelling observational data, to make their case. Books such as Life in  classrooms by Philip Jackson. The Good High School by Sara Lawrence Lightfoot and A Place Called School by John Goodlad report studies of this type.

Some descriptive studies involve primarily the administration of quesionnaires or interviews to samples of research participants. This type of research (sometimes called survey reseach) has yielded much valuable knowledge about opinions, attitudes, and practices. This knowledge has helped shape educational policy and initiatives to improve existing conditions.

Measurement in Descriptive Research
Descriptive studies are limited by the types and quaility of available measures. For this reason, many researchers work intensively on developing new measures or perfecting ones that already have been developed in order to describe precisely and accurately the phenomena of interest to them. These measures are of many types. including, for example. standardized achievement tests, classroom observation instruments, attitude scales, questionnaires. and interviews. If you are planning to do a descriptive study in the quantitative research tradition, you should be familiar with the various types of research measures discussed in Chapters 7 through 9. Statislics in Descriptive Research To describe a sample as a whole, a researcher typically will define variables, measure them. and for each measure compute one or more of the descriptive statistics mentioned in Chapter 5.—that is, measures of central tendency (the mean, median, and modus and measures of variability (standard deviation, variance, and range). The researcher also might calculate derived scores as an aid in interpreting the sample’s scores on the variables that were measured. Derived scores aid interpretation by providing a quantitative measure of each individuals performance relative to a comparison group, for example, a normative sample. Age equivalents, grade equivalents. percentiles, and standard scores are examples of derived scores that commonly are used in descriptive research.

Some descriptive research is intended to produce statistical information about aspects of education that interest policy makers and educators. The National Center for Education Statistics specializes in this type of research. Many of its findings are published in an annual volume called the Digest of Educaitional Statistics. This center also administers the National Assessment of Educational Progress (NAEP). which collects descriptive in formation about the performance of youth at various ages in the subject areas that are taught in public school, A typical NAEP publication that appears periodically is the Reading Report Card, which reports descriptive statistics about the reading achievement of students at several grade levels. On a large scale, the International Association for the Evaluation of Educational Achievement. (EEA) carries out descriptive studies of the academic achievement of students from many nations, including the United States. Two main types of descriptive research are found in the research literature, differing primarily in the time at which the variables of interest are measured. The first type involves measuring the characteristics of a sample at one point in time. The second type involves longitudinal research. In which a sample is followed over time. We discuss each of these types of descriptive research below.

Friday, March 17, 2017

Inti Sari Penelitian Deskriptif

INTI SARI
PENELITIAN DESKRIPTIF 

INTISARI PENELITIAN DESKRIPTIF

1. Tujuan Penelitian Deskriptif

  • Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan memecahkan atau menjawab masalah yang sedang dihadapi pada masa sekarang.
  • Manfaat utama penelitian deskriptif adalah untuk mengadakan perbaikan di bidang pendidikan.
  • Dalam jenis penelitian ini, penelitian dilakukan terhadap subjek sebagaimana adanya dan tidak diberikan suatu perlakuan.


2.Langkah-langkah Penelitian Deskriptif

a. Memilih masalah;

b. Merumuskan dan membatasi masalah;

c. Membuat asumsi yang mendasari hipotesis;

d. Merumuskan hipotesis;

e. Memilih dan merumuskan teknik pengumpulan data;

f. Menentukan kategori untuk klasifikasi data;

g. Menetapkan instrumen pengumpulan data;

h. Mengumpulkan data;

i. Menaganalisis data;

j. Membuat kesimpulan;

k. Menyusun dan mempublikasikan laporan.


3. Jenis-jenis Penelitian Deskriptif

a. Survei

  • Penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dari sejumlah besar unit atau individu dalam waktu atau jangka waktu yang bersamaan.
Tujuan survei adalah
a. untuk membuat penilaian terhadap suatu praktik penyelenggaraan, dan
b. menyusun perencanaan pengembangan sesuatu bidang.
Masalah yang disurvei dalam bidang pendidikan meliputi survei sekolah, survei analisis jabatan, survei analisis dokumenter, survei masyarakat, dan survei pendapat umum.

Contoh:

Pendapat guru kimia SMA Palangka Raya tahun 2017 terhadap keterlaksanaan Kurikulum Penddikan Kimia 2013, dari aspek peseta didik, guru, pendekatan, sarana-prasarana, penilaian, dan administrasi

b. Studi Kasus

  • Penelitian yang bertujuan menganalisis kasus tunggal sebagai subjek yang dilakukan secara mendalam.
  • Tujuan untuk mendapatkan generalisasi, berupa pola kasus yang bersifat tipikal.
  • Subjek penelitian hanya satu jenis, sedangkan objek penelitian dapat banyak.
  • Hasil penelitian hanya berlaku untuk kasus yang diteliti, tidak berlaku untuk kasus lain.


Contoh:

Evaluasi proses program pembelajaran kimia di SMA Negeri A Palangka Raya.

c. Studi Perbandingan

  • Penelitian yang dilakukan dengan cara membandingkan persamaan dan perbedaan berbagai gejala.
  • Tujuan untuk mencari faktor penyebab timbulnya gejala tersebut.
  • Diantara kesulitan melaksanakan studi perbandingan adalah mengidentifikasi faktor penyebab dari munculnya suatu gejala yang sedang diteliti.


Contoh:

Perbandingan antara Kurikulum Kimia KTSP 2006 dengan kurikulum 2013 ditinjau dari tujuan, materi, pendekatan, dan sistem penilaiannya.

d. Studi Korelasi

  • Penelitian yang bertujuan menemukan ada tidaknya hubungan paralel antara dua variabel atau lebih dalam satu subjek atau dalam sekelompok subjek.
  • Korelasi antara dua variabel atau lebih dapat berupa korelasi paralel atau korelasi kausal.
  • Dalam jenis penelitian ini yang dibahas khusus mengenai korelasi paralel.
  • Analisis data yang dipakai adalah analisis korelasi tunggal atau ganda, tergantung jenis datanya.
  • Korelasi disebut korelasi tunggal apabila berupa korelasi antara dua variabel, yaitu antara variabel X dengan variabel Y.
  • Korelasi disebut korelasi ganda apabila berupa korelasi antara dua variabel (X₁ dan X₂ ) atau lebih (X₁, X₂, X₃ .... Xₙ) dengan satu variabel (Y).


Contoh:


  1. Hubungan antara minat belajar sains dengan prestasi belajar sains peserta didik SMP/MTs Negeri Palangka Raya tahun 2017.
  2. Hubungan antara minat belajar kimia, sikap terhadap mata pelajaran kimia, dan gaya belajar dengan prestasi belajar kimia peserta didik SMA Negeri Palangka Raya tahun 2010.


e. Studi Prediksi

  • Penelitian yang dilakukan untuk membuat perkiraan (prediksi) tentang kemungkinan munculnya suatu gejala, berdasarkan gejala lain yang sudah muncul atau diketahui sebelumnya.
  • Penelitian ini bertujuan menemukan ada tidaknya hubungan kausal antara dua variabel atau lebih dalam satu subjek atau sekelompok subjek.
  • Dalam jenis penelitian ini yang dibahas khusus mengenai korelasi kausal.
  • Analisis data yang dipakai adalah analisis regresi tunggal atau ganda, tergantung jenis datanya.
  • Korelasi kausal dapat berupa korelasi tunggal dan korelasi ganda. Korelasi tunggal berupa korelasi antara dua variabel, variabel X dengan variabel Y.
  • Korelasi kausal disebut korelasi ganda apabila berupa korelasi antara dua variabel (X₁ dan X₂) atau lebih (X₁, X₂, X₃ ..Xₙ) dengan satu variabel (Y).


Contoh:
Pengaruh persepsi siswa tentang profesionalisme guru, motivasi berprestasi, dan kemampuan numerik terhadap prestasi belajar kimia siswa SMA Negeri Palangka Raya.

f. Studi Pertumbuhan (Growth Study)

  • Penelitian tentang pertumbuhan sesuatu hal, yang dilakukan secara longitudinal.
  • Penelitian demikian biasanya memerlukan waktu lama, tidak untuk penelitian tesis


Contoh:

Minat belajar kimia peserta didik di kelas X SMA Negeri Palangka Raya tahun 2017.

Pada penelitian ini peserta didik setiap akhir bulan diberi uji minat belajar kimia selama sepuluh bulan berada di kelas X.

g. Studi Kecenderungan (Trend Study)

  • Penelitian ini merupakan perpaduan antara metode sejarah, dokumenter, dan survei.
  • Penelitian kecenderungan bertujuan meneliti munculnya suatu gejala berdasarkan hasil survei ataupun suatu teori.
  • Penelitian ini dilakukan untuk prediksi keadaan yang akan datang, berdasar atas data hasil survei atau berdasar teori tertentu.


Contoh:

Analisis kebutuhan guru kimia SMA selama lima tahun kedepan.

  • Penelitian ini memerlukan data survei, teori kecenderungan, memerlukan waktu lama, dan biaya besar. Tidak diperlukan untuk penelitian skripsi.

Dari berbagai metode penelitian di atas, tiga metode penelitian banyak dilakukan untuk kepentingan penelitian skripsi, yaitu studi perbandingan, studi korelasi, dan studi prediksi.


Saturday, February 25, 2017

Definisi Penelitian Deskriptif

Definisi Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dirancang untuk menggambarkan subjek penelitian dengan cara yang akurat. Lebih sederhananya, penelitian deskriptif adalah semua tentang deskripsi subjek yang diteliti dalam studi tersebut.

Ada tiga cara yang umum dilakukan peneliti dalam melakukan sebuah proyek penelitian deskriptif, yaitu:



  1. Observasi, penelitian dilakukan dengan metode pengamatan dan membuat rekaman/catatan tentang subjek yang diteliti.
  2. Studi kasus, penelitian dilakukan dengan studi mendalam tentang individu atau sekelompok individu yang diteliti.
  3. Survei, penelitian dilakukan dengan wawancara singkat atau diskusi dengan individu yang diteliti tentang topik tertentu.

Menurut Wardiyanta (2006). jenis penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan membuat deskripsi atas suatu fenomena sosial/alam secara sistemalis. faktual. dan akurat.

Menurut Sugiyono (2011) definisi penelitian deskriptif  atau Metode Deskriptif adalah metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Dalam hal ini hasil penelitian bukan untuk digeneralisasikan. Jenis ini dikenal dengan deskriptif kualitatif.

Metode penelitian deskriptif dapat berupa metode yang bertujuan untuk mengetahui sifat serta hubungan yang lebih mendalam antara dua variabel dengan cara mengamati aspek-aspek tertentu secara lebih spesifik untuk memperoleh data yang sesuai dengan masalah yang ada dengan tujuan penelitian, dimana data tersebut diolah, dianalisis, dan diproses lebih lanjut dengan dasar teori-teori yang telah dipelajari sehingga data tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan. Jenis ini dikenal dengan deskriptif asosiatif.

Penelitian deskriptif asosiatif atau jenis penelitian deskriptif asositatif adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain.


Berdasarkan metode yang digunakan, Penelitian deskriptif bertujuan mendeskripsikan permasalahan yang sedang dihadapi pada situasi sekarang. Jenis penelitian ini dibagi menjadi penelitian survei, studi kasus, studi perbandingan, studi korelasi, studi prediksi, studi pertumbuhan, dan studi kecenderungan.

Dilihat dari syarat penelitian deskriptif yang sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi guru (mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan), maka apabila penelitian seperti ini dilakukan secara terencana oleh peneliti maka dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian Pre Experimental Design One Shot Case Study atau One-Group Pretest-Posttest Design. Namun demikian, karena pelaksanaan penelitian dilakukan setelah kejadian berlangsung (ini ciri penelitian deskriptif) maka tetap dikatakan sebagai penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif sendiri dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu 

  1. Apabila hanya mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif maka disebut penelitian deskriptif kualitatif; 
  2. Apabila dilakukan analisis data dengan menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka disebut deskriptif asosiatif; 
  3. Apabila dalam analisis data dilakukan pembandingan maka disebut deskriptif komparatif. 
Penelitian deskriptif yang dilakukan guru harus berorientasi pada pemecahan masalah atau peningkatan mutu pembelajaran maka lebih tepatnya rancangan penelitian deskriptif seperti itu disebut penelitian deskriptif yang berorientasi pada pemecahan masalah atau peningkatan mutu.

Sunday, November 20, 2016

Penelitian Deskriptif

PENELITIAN DESKRIPTIF

Berorientasi Pemecahan Masalah


#
Dalam kaitannya dengan tugas mengajar guru maka jenis penelitian yang dilakukan guru (atau calon guru, jika peneliti adalah mahasiswa fakultas keguruan) sebaiknya adalah penelitian yang memiliki dampak terhadap pengembangan profesi guru dan peningkatan mutu pembelajaran. Salah satu jenis penelitian ditinjau dari tingkat eksplanasinya adalah penelitian deskriptif (Sugiyono: 2006,5), jenis penelitian ini dapat dilakukan oleh guru dalam kaitannya dengan pembelajaran di kelasnya. Walaupun penelitian yang dilakukan oleh guru merupakan penelitian deskriptif, namun tetap harus mendeskripsikan upaya yang telah dilakukan guru untuk memecahkan masalah dalam pembelajaran (Suhardjono: 2005). Upaya tersebut dapat berupa penggunaan metode pembelajaran yang baru, metode penilaian atau upaya lain dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi guru atau dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran. Dilihat dari syarat penelitian deskriptif yang sesuai dengan kegiatan pengembangan profesi tersebut (mendeskripsikan upaya yang telah dilakukuan), maka apabila penelitian seperti itu dilakukan secara terencana oleh peneliti maka dapat dikategorikan sebagai jenis penelitian Pre Experimental Design One Shot Case Study atau One-Group Pretest-Posttest Design (Sugiyono: 2006, 83). Namun demikian, karena pelaksanaan penelitian dilakukan setelah kejadian berlangsung (ini ciri penelitian deskriptif) maka tetap dikatakan sebagai penelitian deskriptif. Jenis penelitian deskriptif sendiri dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) apabila hanya mendeskripsikan data apa adanya dan menjelaskan data atau kejadian dengan kalimat-kalimat penjelasan secara kualitatif maka disebut penelitian deskriptif kualitatif; (2) Apabila dilakukan analisis data dengan menghubungkan antara satu variabel dengan variabel yang lain maka disebut deskriptif asosiatif; dan (3) apabila dalam analisis data dilakukan pembandingan maka disebut deskriptif komparatif. Dan karena untuk penelitian deskriptif yang dilakukan guru harus berorientasi pada pemecahan masalah atau peningkatan mutu pembelajaran maka lebih tepatnya rancangan penelitian seperti itu disebut penelitian deskriptif yang berorientasi pemecahan masalah atau peningkatan mutu,

A. Ilustrasi
Sebagai ilustrasi dapat digambarkan sebagai berikut. Bu Tuti seorang guru Fisika SMP kelas IX. Dia mempunyai masalah di kelas IX-A karena siswanya sering gaduh dan malas dalam mengikuti pelajaran. Berkali-kali Bu Titi sudah memperingatkan siswanya agar mengikuti pelajaran dengan baik, tetapi masih belum berhasil juga. Untuk itu dia berfikir untuk menemukan cara bagaimana menarik perhatian siswa agar mau mengikuti pelajaran dengan baik dan aktif dalam belajar. Untuk itu Bu Tuti mencoba menerapkan metoda pembelajaran dengan metode penemuan/inkuiri ditambah penggunaan berbagai media pembelajaran. Mulailah dirancang langkah-langkah pembelajaran tersebut dan dituangkannya dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Selanjutnya Bu Tuti mulai menerapkan metode tersebut yang ternyata mampu menarik siswanya sehingga mau mengikuti pelajaran dengan baik dan lebih aktif dari sebelumnya. Selama pelajaran berlangsung Bu Tuti mencatat segala tingkah laku siswa, mana hal-hal yang membuat siswa senang dan termotivasi, dan mana yang kurang menarik siswa. Dia juga merekam nilai yang diperoleh siswa sebelum dan setelah metode tersebut diterapkan.

Pada waktu setelah kejadian berlangsung dan karena melihat keberhasilannya tersebut kemudian Bu Tuti ingin mengetahui lebih mendalam tentang sebab-sebab siswa tidak tertarik dan kemudian menjadi tertarik untuk mengikuti pelajaran. Dia mulai mewawancara siswanya tentang apa yang membuat menarik dan mana yang tidak menarik, mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak perlu dan sebagainya. Selain itu dia juga membuat angket yang dimaksudkan untuk mengetahui lebih dalam pendapat siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkannya. Dari hasil wawancara, angket maupun hasil penilaian, kemudian dilakukan analisis dan pembahasan tentang penyebab ketidaktertarikan dan penyebab ketertarikan siswa, hal-hal yang membuat siswa bergairah dan sebagainya. Selanjutnya Bu Tuti menuliskan segala pengalamannya dalam bentuk laporan penelitian, dituliskannya upaya yang telah dilakukan tersebut secara sistematis mulai dari latar belakang mengapa dia menerapkan metode pembelajaran baru, rumusan masalahnya, landasan teori dan metode penelitian yang digunakan serta teknik analisis/pembahasan dan akhirnya menyusun kesimpulan hasil penelitiannya.

Demikian tadi, Bu Tuti sudah melakukan penelitian deskriptif kualitiatif tentang upaya yang telah dilakukan untuk memecahkan masalah dalam proses pembelajaran di kelasnya.

B. Persiapan Penelitian
Sebuah penelitian beranjak dari masalah yang ditemukan atau dirasakan. Yang dimaksud masalah adalah setiap hambatan atau kesulitan yang membuat seseorang ingin memecahkannya. Jadi sebuah masalah harus dapat dirasakan sebagai satu hambatan yang harus diatasi apabila kita ingin melakukan sesuatu. Dalam arti lain sebuah masalah terjadi karena adanya kesenjangan (gap) antara kenyataan dengan yang seharusnya. Penelitian diharapkan dapat memecahkan masalah itu, atau dengan kata lain dapat menutup atau setidak-tidaknya memperkecil kesenjangan itu.

Setelah masalah diidentifikasi, dipilih, maka lalu perlu dirumuskan. Perumusan ini penting, karena berdasarkan rumusan tersebut akan ditentukan metode pengumpulan data, pengolahan data maupun analisis dan peyimpulan hasil penelitian. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan masalah, yaitu: Sebaiknya dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya, padat dan jelas, memberi petunjuk tentang memungkinkannya pengumpulan data, dan cara menganalisisnya. 


Setelah masalah dirumuskan, maka langkah selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan teoritis penelitian yang akan dilakukan itu. Hal lain yang lebih penting makna dari penelaahan kepustakaan adalah untuk memperluas wawasan keilmuan bagi para calon peneliti, karena kita sadari bahwa semua informasi yang berkaitan dengan keilmuan dalam hal ini teori ataupun hasil penelitian para ahli semua sudah tertuang dalam kepustakaan.

Selanjutnya ditentukan metode pengumpulan data, yang diantaranya meliputi metode wawancara, angket, pengamatan dan dokumentasi. Apabila kita katakan bahwa untuk memperoleh data kita gunakan metode wawancara, maka di dalam melaksanakan pekerjaan wawancara ini, pewawancara menggunakan alat bantu. Secara minimal alat bantu tersebut berupa rambu-rambu pertanyaan yang akan ditanyakan dan biasanya disebut pedoman wawancara. Untuk memperoleh jawaban secara tertulis dari responden, digunakan angket atau kuesioner. Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memproleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui. Istilah angket digunakan untuk menyebutkan metode maupun instrumen. Jadi dalam menggunakan metode angket berarti instrumen yang digunakan adalah angket. Selanjutnya data dapat diambil melalui proses pengamatan atau observasi. Pengamatan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengamatan non sistematis yang dilakukan oleh pengamat dengan tidak menggunakan instrumen pengamatan dan pengamatan sistematis, yang dilakukan oleh pengamatan dengan menggunakan pedoman dalam melakukan pengamatan. Saat melakukan penelitian di mana sumber datanya berupa tulisan atau dokumen, digunakan metode dokumentasi.

C. Pelaksanaan Pengumpulan dan Pengolahan Data
Setelah peneliti melakukan persiapan seperti dijelaskan di atas, maka selanjutnya dilakukan pengumpulan data. Untuk seorang guru, pengumpulan data dapat dilakukan di kelasnya sendiri. Dalam hal rancangan penelitian deskriptif aplikatif, maka pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan angket (bagi siswa SMP, SMA, SMK) atau wawancara (bagi siswa TK atau SD) dan data yang dikumpulkan misalnya tentang tanggapan siswa atas metode pembelajaran baru yang telah dilakukan guru atau hasil observasi atas sikap siswa pada saat guru menyajikan pembelajaran dengan metode baru. Data lain yang perlu dikumpulkan misalnya adalah nilai hasil belajar siswa, yang diperoleh dari metode dokumentasi, dan keaktifan siswa, yang diperoleh dari hasil pengamatan.

Setelah data terkumpul dari hasil pengumpulan data, perlu segera dilakukan pengolahan data. Selanjutnya data yang telah diolah tersebut disajikan dalam bentuk tabel, diagram, dan lain-lain agar memudahkan dalam pengolahan serta analisis selanjutnya.

D. Analisis dan Penarikan Kesimpulan
Data hasil olahan tersebut kemudian harus dianalisis, data deskriptif kualitatif sering hanya dianalisis menurut isinya dan karenanya analisis seperti ini juga disebut analisis isi (content analysis). Dalam analisis deskriptif, data disajikan dalam bentuk tabel data yang berisi frekuensi, dan kemudian dihitung mean, median, modus, persentase, standar deviasi atau lainnya. Untuk analisis statistik, model analisis yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitiannya. Apabila penelitian yang dilakukan guru hanya berhenti pada penjelasan masalah dan upaya pemecahan masalah yang telah dilakukan (untuk meningkatkan mutu pembelajaran), maka setelah disajikan data hasil wawancara, angket, pengamatan atau dokumentasi, maka selanjutnya dianalisis atau dibahas dan diberi makna atas data yang disajikan tersebut. Tetapi apabila penelitian juga dimaksudkan untuk mengetahui tingkat hubungan maka harus dilakukan pengujian hipotesis sebagaimana hipotesis yang telah ditetapkan untuk diuji. Misalnya uji statistik yang dilakukan adalah uji hubungan, maka akan diperoleh hasil uji dalam dua kemungkinan, yaitu hubungan antar variabel-variabel penelitian atau perbedaan antara sampel-sampel yang diteliti, dengan taraf signifikansi tertentu, misalnya 5% atau 10%., atau dapat terjadi hubungan antar variabel penelitian atau perbedaan antara sampel yang diteliti tidak signifikan. Apabila ternyata dari hasil pengujian diketahui bahwa hipotesis alternatif diterima (hipotesis nol ditolak) berarti menyatakan bahwa dugaan tentang adanya saling hubungan atau adanya perbedaan diterima sebagai hal yang benar, karena telah terbukti demikian. Sebaliknya dalam kemungkinan hasil yang kedua dinyatakan hipotesis alternatif tidak terbukti kebenarannya, maka berati hipotesis nol yang diterima. Dengan telah diambilnya hasil pengujian mengenai penerimaan atau penolakan hipotesis maka berati analisis statistik telah selesai, tetapi perlu diingat bahwa pelaksanaan penelitian masih belum selesai, karena hasil keputusan tersebut masih harus diberi interprestasi atau pemaknaan.

Hasil analisis dari pengujian hipotesis dapat dikatakan masih bersifat faktual, untuk itu selanjutnya perlu diberi arti atau makna oleh peneliti. Dalam pemaknaan sering kali hasil pengujian hipotesis penelitian didiskusikan atau dibahas dan kemudian ditarik kesimpulan. Dalam penelitian dipastikan seorang peneliti mengharapkan hipotesis penelitiannya akan terbukti kebenarannya. Jika memang demikian yang terjadi, maka kemungkinan pembahasan menjadi tidak terlalu berperan walaupun tetap harus dijelaskan arti atau maknanya. Tetapi jika hipotesis penelitian itu ternyata tidak tahan uji, yaitu ditolak, maka peranan pembahasan menjadi sangat penting, karena peneliti harus mengekplorasi dan mengidentifikasi sumber masalah yang mungkin menjadi penyebab tidak terbuktinya hipotesis penelitian. Akhirnya dalam kesimpulan harus mencerminkan jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Jangan sampai antara masalah penelitian, tujuan peneltian, landasan teori, data, analisis data dan kesimpulan tidak ada runtutan yang jelas. Apabila penelitian mengikuti alur atau sistematika berpikir yang runut seperti itu maka penelitian akan dapat dikatakan telah memiliki konsistensi dalam alur penelitiannya.