Showing posts with label pengantar kimia dasar. Show all posts
Showing posts with label pengantar kimia dasar. Show all posts

Wednesday, May 3, 2017

2.2. Model atom

a. Ukuran atom
Seperti telah disebutkan di bagian sebelumnya, ketakterbagian atom perlahan mulai dipertanyakan. Pada saat yang sama, perhatian pada struktur atom perlahan menjadi semakin besar. Bila ilmuwan mempelajari struktur atom, ukurannya harus dipertimbangkan. Telah diketahui bahwa sebagai pendekatan volume atom dapat diperkirakan dengan membagi volume 1 mol padatan dengan konstanta Avogadro.

Latihan 2.3 volume satu molekul air
Dengan menganggap molekul air berbentuk kubus, hitung panjang sisi kubusnya. Dengan menggunakan nilai yang didapat, perkirakan ukuran kira-kira satu atom (nyatakan dengan notasi saintifik atau notasi ilmiah 10x).

Jawab:

Volume 1 mol air sekitar 18 cm3. Jadi volume 1 molekul air adalah:
V = 18 cm3/6,022 x 1023 = 3x10-23 cm3 = 30 x 10-24 cm3. Panjang sisi kubus adalah
(30 x 10-24 cm3)1/3 cm = 3,1 x 10–8 cm.
Nilai ini mengindikasikan bahwa ukuran atom sekitar 10–8 cm. Thomson mengasumsikan bahwa atom dengan dimensi sebesar itu adalah bola seragam bermuatan positif dan elektron-elektron kecil yang bermuatan negatif tersebar di permukaan bola tersebut. Dalam kaitan ini model Thomson sering disebut dengan “model bolu kismis”, kismisnya seolah elektron dan bolunya adalah atom.

b. Penemuan inti atom
Setelah melakukan banyak kemajuan dengan mempelajari keradioaktifan, fisikawan Inggris Ernest Rutherford (1871-1937) menjadi tertarik pada struktur atom, yang merupakan asal radiasi radioaktif. Ia menembaki lempeng tipis logam (ketebalan 104Å) dengan berkas paralel partikel α (di kemudian hari ditemukan bahwa partikel α adalah inti atom He). Ia merencanakan menentukan sudut partikel yang terhambur dengan menghitung jumlah sintilasi pada layar ZnS (Gambar 2.2). Hasilnya sangat menarik dan diluar dugaan Rutherford. Sebagian besar partikel melalui lempeng tersebut. Sebagian partikel dipantulkan balik. Untuk menjelaskan hal yang tak terduga ini, Rutherford mengusulkan adanya inti atom .



Gambar 2.2 Percobaan hamburan partikel α Rutherford

Sangat aneh mendapati sebagian besar partikel berbalik, dan beberapa bahkan dipantulkan dengan sudut 180 derajat. Rutherford menyatakan bahwa dalam atom harus ada partikel yang massanya cukup besar sehingga patikel α yang memiliki massa sebesar massa atom helium dipantulkan dan memiliki jari-jari yang sangat kecil.

Menurut ide Rutherford, muatan positif atom terpusat di bagian pusat (dengan jari-jari terhitung sekitar 10–12 cm) sementara muatan negatifnya terdispersi di seluruh ruang atom. Partikel kecil di pusat ini disebut dengan inti. Semua model atom sebelumnya yang menyatakan atom sebagai ruang yang seragam dengan demikian ditolak.

Namun, model atom Rutherford yang terdiri atas inti kecil dengan elektron terdispersi di sekitarnya tidak dapat menjelaskan semua fenomena yang telah dikenal pada waktu itu. Bila elektron tidak bergerak, elektron akan bersatu dengan inti karena tarikan elektrostatik (gaya Coulomb). Hal ini jelas tidak mungkin terjadi sebab atom adalah kesatuan yang stabil. Bila elektron mengelilingi inti seperti planet dalam pengaruh gravitasi matahari, elektron akan mengalami percepatan dan akan kehilangan energi melalui radiasi elektromagnetik. Akibatnya, orbitnya akan semakin dekat ke inti dan akhirnya elektron akan jatuh ke inti. Dengan demikian, atom akan memancarkan spektrum yang kontinyu. Tetapi faktanya, atom stabil dan diketahui atom memancarkan spektrum garis (dibahas dalam spektrum atom) bukan spektrum kontinyu. Jelas diperlukan perubahan fundamenatal dalam pemikiran untuk menjelaskan semua fakta-fakta percobaan ini.


Saturday, April 29, 2017

2.1. Penemuan elektron

Menurut Dalton dan ilmuwan sebelumnya, atom adalah partikel terkecil yang tak dapat terbagi lagi, dan merupakan komponen mikroskopik utama penyusun semua materi. Jadi, tidak ada seorangpun ilmuwan sebelum abad 19 menganggap atom memiliki struktur, atau dengan kata lain, atom juga memiliki komponen yang lebih kecil.

Keyakinan bahwa atom tak terbagi mulai goyah akibat perkembangan pengetahuan hubungan materi dan kelistrikan yang berkembang lebih lanjut. Kita dapat mempelajari perkembangan kronologis pemahaman hubungan antara materi dan listrik.

Tabel 2.1 Kemajuan pemahaman hubungan materi dan listrik.
Tahun                            Peristiwa
1800                              Penemuan baterai (Volta)
1807                              isolasi Na dan Ca dengan elektrolisis (Davy)
1833                              Penemuan hukum elektrolisis (Faraday)
1859                              Penemuan sinar katoda (Plücker)
1874                              Penamaan elektron (Stoney)
1887                              Teori ionisasi (Arrhenius)
1895                              Penemuan sinar-X (Röntgen)
1897                              Bukti keberadaan elektron (Thomson)
1899                              Penentuan e/m (Thomson)
1909-13                         Percobaan tetes minyak (Millikan)

Faraday memberikan kontribusi yang sangat penting, ia menemukan bahwa jumlah zat yang dihasilkan di elektroda-elektroda saat elektrolisis (perubahan kimia ketika arus listrik melewati larutan elektrolit) sebanding dengan jumlah arus listrik. Ia juga menemukan pada tahun 1833 bahwa jumlah listrik yang diperlukan untuk menghasilkan 1 mol zat di elektroda adalah tetap (96,500 C). Hubungan ini dirangkumkan sebagai hukum elektrolisis Faraday.

Faraday sendiri tidak bermaksud menggabungkan hukum ini dengan teori atom. Namun, kimiawan Irish George Johnstone Stoney (1826-1911) memiliki wawasan sehingga mengenali pentingnya hukum Faraday pada struktur materi; ia menyimpulkan bahwa terdapat satuan dasar dalam elektrolisis, dengan kata lain ada analog atom untuk kelistrikan. Ia memberi nama elektron pada satuan hipotesis ini.

Kemudian muncul penemuan menarik dari percobaan tabung vakum. Bila kation mengenai anoda saat diberikan beda potensial yang tinggi pada tekanan rendah (lebih rendah dari 10–2 - 10–4 Torr. Torr adalah satuan tekanan yang sering digunakan untuk mendeskripsikan tingkat vakum, (1 Torr = 133, 3224 Pa)), gas dalam tabung, walaupun merupakan insulator, menjadi penghantar dan memancarkan cahaya. Bila vakumnya ditingkatkan, dindingnya mulai menjadi mengkilap, memancarkan cahaya fluoresensi (Gambar 2.1). Fisikawan Jerman Julius Plücker (1801-1868) berminat pada fenomena ini dan menginterpreatsinya sebagai beikut: beberapa partikel dipancarkan dari katoda. Ia memberi nama sinar katoda pada partikel yang belum teridentifikasi ini (1859).


Gambar 2.1 Penemuan sinar katoda. Sinar katoda dihasilkan dalam tabung vakum bila vakum tinggi memberikan informasi yang sangat penting pada struktur atom.

Patikel yang belum teridentifikasi ini, setelah dipancarkan dari katoda, akan menuju dinding tabung atau anoda. Ditemukan bahwa partikel tersebut bermuatan karena lintasan geraknya akan dibelokkan bila medan magnet diberikan. Lebih lanjut, sifat cahaya tidak bergantung jenis logam yang digunakan dalam tabung katoda, maupun jenis gas dalam tabung pelucut ini. Fakta-fakta ini menyarankan kemungkinan bahwa partikel ini merupakan bahan dasar materi.

Fisikawan Inggris Joseph John Thomson (1856-1940) menunjukkan bahwa partikel ini bermuatan negatif. Ia lebih lanjut menentukan massa dan muatan partikel dengan memperkirakan efek medan magnet dan listrik pada gerakan partikel ini. Ia mendapatkan rasio massa dan muatannya. Untuk mendapatkan nilai absolutnya, salah satu dari dua hal tersebut harus ditentukan.

Fisikawan Amerika Robert Andrew Millikan (1868-1953) berhasil membuktikan dengan percobaan yang cerdas adanya partikel kelistrikan ini. Percobaan yang disebut dengan percobaan tetes minyak Millikan. Tetesan minyak dalam tabung jatuh akibat pengaruh gravitasi. Bila tetesan minyak memiliki muatan listrik, gerakannya dapat diatur dengan melawan gravitasi dengan memberikan medan listrik. Gerakan gabungan ini dapat dianalisis dengan fisika klasik. Millikan menunjukkan dengan percobaan ini bahwa muatan tetesan minyak selalu merupakan kelipatan 1,6x10–19 C. Fakta ini berujung pada nilai muatan elektron yaitu sebesar 1,6x10–19 C.

Rasio muatan/massa ("/" artinya "berbanding") partikel bermuatan yang telah diketahui selama ini sekitar 1/1000 (C/g). Ratio yang didapatkan Thomson jauh lebih tinggi dari nilai tersebut (nilai akurat yang diterima adalah 1,76 x108 C/g), dan penemuan elektron tidak masuk dalam struktur pengetahuan yang ada saat itu. Partikel ini bukan sejenis ion atau molekul, tetapi harus diangap sebagai bagian atau komponen penyusun atom.

Latihan 2.1 Perhitungan massa elektron.
Hitung massa elektron dengan menggunakan nilai yang didapat Millikan dan Thomson.

Jawab:
Kita dapat memperoleh penyelesaian dengan mensubstitusikan nilai yang didapat Millikan pada hubungan: muatan/massa = 1,76 x108 C/g). Maka, m = e/(1,76 x108 C/g)) = 1,6x10–19 C/(1,76 x108 C/g) = 9,1 x10-28 g. Muatan listrik yang dimiliki elektron (muatan listrik dasar) adalah salah satu konstanta universal dan sangat penting.

Latihan 2.2 Rasio massa elektron dan atom hidrogen.
Hitung rasio massa elektron dan atom hidrogen.

Jawab:

Massa mH atom hidrogen adalah: mH = 1 g/6,022 x 1023 = 1,67 x 10-24g.
Jadi, me : mH = 9,1 x 10-28g : 1,67 x 10-24g = 1 : 1,83 x 103. Sangat menakjubkan bahwa massa elektron sangat kecil. Bahkan atom yang paling ringanpun, hidrogen, sekitar 2000 kali lebih berat dari massa elektron.




2. Struktur Atom

Kemajuan yang sangat pesat dalam sains (kimia, fisika, biologi dan matematika) dan teknologi (peralatan labolatorium modern) pada paruh pertama abad 20 ditandai dengan perkembangan paralel teori dan percobaan. Sungguh menakjubkan mengikuti perkembangan saintifik (metode saintifik dan pendekatan saintifik atau yang kita sebut juga metode ilmiah) sebab kita dapat dengan jelas melihat berbagai lompatan perkembangan ini. Sungguh kemajuan pesat sejak dari penemuan elektron, teori kuantum Planck, penemuan inti atom oleh Rutherford, teori Bohr, sampai dikenalkan teori mekanika kuantum yang merangsang kepuasan intelektual. Dalam kimia penemuan ide umum orbital dan konfigurasi elektron memiliki signifikansi khusus. Ide-ide ini dapat dianggap sebagai modernisasi dan pelengkapan teori atom. Mempelajari struktur atom adalah keharusan bagi para ahli kimia.


Tuesday, April 11, 2017

Latihan Soal 1 Sejarah Kimia

1.1 Isotop.
Karbon alami adalah campuran dua isotop, 98,90(3)% 12C dan 1,10(3)% 13C. Hitung massa atom karbon.
Jawab.
Massa atom karbon = 12 x 0,9890 + 13 x 0,0110 = 12,01(1)

1.2 Konstanta Avogadro.
Intan adalah karbon murni. Hitung jumlah atom karbon dalam 1 karat (0,2 g) intan.
Jawab.
Jumlah atom karbon = [0,2 (g)/12,01 (g mol–1)] x 6,022 x 1023(mol–1) = 1,00 x 1022

1.3 Hukum perbandingan berganda.
Komposisi tiga oksida nitrogen A, B dan C diuji. Tunjukkan bahwa hasilnya konsisten dengan hukum perbandingan berganda: massa nitrogen yang bereaksi dengan 1 g oksigen dalam tiap oksida: Oksida A: 1,750 g, oksida B: 0,8750 g, oksida C: 0,4375 g.
Jawab.
Bila hukum perbandingan berganda berlaku, rasio massa nitrogen yang terikat pada 1 g oksigen harus merupakan bilangan bulat.
Hasilnya cocok dengan hukum perbandingan berganda.

1.4 Massa atom.
Tembaga yang ada di alam dianalisis dengan spektrometer massa. Hasilnya: 63Cu 69,09% 65Cu 30,91%. Hitung massa atom Cu. Massa 63Cu dan 65Cu adalah 62,93 dan 64,93 sma.
Jawab.
Massa atom Cu=62,93 x (69,09/100) + 64,93 x (30,91/100) = 63,55 (sma)

1.5 Mol.
Bila kumbang menyengat korbannya, kumbang akan menyalurkan sekitar 1 mg (1x 10–6 g) isopentil asetat C7H14O2. Senyawa ini adalah komponen fragrant pisang, dan berperan sebagai materi pentransfer informasi untuk memanggil kumbang lain. Berapa banyak molekul dalam 1 mg isopentil asetat?
Jawab.
Massa molekular isopentil asetat adalah M = 7 x 12,01 + 14 x 1,008 + 2 x 16,00 = 130.18 (g mol–1). Jumlah mol: 1,0 x 10(g)/130,18(g mol–1) = 7,68 x 10–9(mol) Jumlah molekul 1 mg isopentil asetat: 7,68 x 10–9(mol) x 6,022 x 1023 (mol–1) = 4,6 x 1015

1.6 Massa molekul hidrogen.
Massa atom hidrogen adalah 1,008. Hitung massa molekul hidrogen.
Jawab.

Massa molar hidrogen adalah 2,016 x 10–3 kg mol–1. Massa satu molekul hidrogen = [2,016 x 10–3 (kg mol–1)]/[6,022 x 1023(mol–1) = 3,35 x 10–27(kg).

e. Satuan massa atom (sma)

Standar massa atom dalam sistem Dalton adalah massa atom hidrogen 1H, sedangkan standar massa atom dalam SI yang ditetapkan adalah 1/12 massa atom 12C. Nilai ini disebut dengan satuan massa atom (sma) yang nilainya sama dengan 1,6605402 x 10–27 kg,  D (Dalton) digunakan sebagai simbolnya. Massa atom didefinisikan sebagai rasio rata-rata sma unsur dengan distribusi isotop alaminya dengan 1/12 sma 12C.

d. Kuantitas materi dan mol

Metode kuantitatif yang paling cocok untuk mengungkapkan jumlah materi adalah menentukan jumlah partikel seperti atom atau molekul yang menyusun materi. Namun, untuk menghitung partikel atom atau molekul yang sangat kecil dan tidak dapat dilihat tentu sangat sukar. Untuk dapat menghitung jumlah partikel secara langsung, kita dapat menggunakan massa sejumlah tertentu partikel. Kemudian, bagaimana sejumlah tertentu bilangan dipilih? Untuk menyingkat cerita, jumlah partikel dalam 22,4 L gas pada STP (0, 1atm) dipilih sebagai jumlah standar. Bilangan ini disebut dengan bilangan Avogadro. Nama bilangan Loschmidt juga diusulkan untuk menghormati kimiawan Austria Joseph Loschmidt (1821-1895) yang pertama kali melakukan percobaan (1865).

Sejak tahun 1962, menurut SI (Systeme Internationale) diputuskan bahwa dalam dunia kimia, mol digunakan sebagai satuan jumlah materi. Bilangan Avogadro didefinisikan sebagai jumlah atom karbon dalam 12 g unsur 126C dan dinamakan ulang dengan nama "konstanta Avogadro". Ada beberapa definisi istilah untuk “mol”. Definisi “mol” 
(1) Jumlah materi yang mengandung sejumlah partikel yang terkandung dalam 12 g atom 12C. 
(2) satu mol materi yang mengandung sejumlah konstanta Avogadro partikel. 
(3) Sejumlah materi yang mengandung 6,022 x 1023 partikel.

c. Massa molekul dan massa rumus

Setiap senyawa didefinisikan oleh rumus kimia yang mengindikasikan jenis dan jumlah atom yang menyususn senyawa tersebut. Massa rumus (atau massa rumus kimia) didefinisikan sebagai jumlah massa atom berdasarkan jenis dan jumlah atom yang terdefinisi dalam rumus kimianya. Rumus kimia molekul disebut rumus molekul, dan massa rumus kimianya disebut dengan massa molekul. (Tidak mungkin mendefinisikan molekul untuk senyawa seperti natrium klorida. Massa rumus untuk NaCl digunakan sebagai ganti massa molekul). Misalkan, rumus molekul karbon dioksida adalah CO2, dan massa molekulnya adalah 12 +(2x 6) = 44. Seperti pada massa atom, baik massa rumus dan massa molekul tidak harus bilangan bulat. Misalnya, massa molekul hidrogen klorida (HCl) adalah 36,5. Bahkan bila jenis dan jumlah atom yang menyusun molekul identik, dua molekul mungkin memiliki massa molekul yang berbeda bila ada isostop berbeda yang terlibat.

Latihan Soal 1.3 Massa molekul senyawa yang mengandung isotop.

Hitung massa molekul air H2O dan air berat D2O (2H2O) dalam bilangan bulat. 

Jawab. 
Massa molekul H2O = (1 x 2) + 16 = 18, massa molekul D2O = (2 x 2) + 16 = 20. Perbedaan massa molekul H2O dan D2O sangat substansial, dan perbedaan sifat fisika dan sifat kimia antara kedua jenis senyawa ini tidak dapat diabaikan. H2O lebih mudah dielektrolisis daripada D2O. Jadi, sisa air setelah elektrolisis cenderung mengandung lebih banyak D2O daripada dalam air alami. 

b. Massa atom relatif dan massa atom

Dalton mengenali bahwa penting untuk menentukan massa setiap atom karena massanya bervariasi untuk setiap jenis atom. Atom sangat kecil sehingga tidak mungkin menentukan massa satu atom. Maka ia memfokuskan pada nilai relatif massa dan membuat tabel massa atom (gambar 1.3) untuk pertamakalinya dalam sejarah manusia. Dalam tabelnya, massa unsur teringan, hidrogen ditetapkannya bermassa satu sebagai standar (H = 1). Massa atom adalah nilai relatif, artinya suatu rasio tanpa dimensi. Walaupun beberapa massa atomnya berbeda dengan nilai modern, sebagian besar nilai-nilai yang diusulkannya dalam rentang kecocokan dengan nilai saat ini. Hal ini menunjukkan bahwa ide dan percobaannya benar.

Gambar 1.3 Tabel Dalton yang mendaftarkan simbol dan massa atom unsur. Tabel ini dibuat tahun 1807, dan kini menjadi salah satu koleksi The Science Museum di London.

Kemudian kimiawan Swedia Jons Jakob Baron Berzelius (1779-1848) menentukan massa atom dengan oksigen sebagai standar (O = 100). Karena Berzelius mendapatkan nilai ini berdasarkan analisis oksida, ia mempunyai alasan yang jelas untuk memilih oksigen sebagai standar. Namun, standar hidrogen jelas lebih unggul dalam hal kesederhanaannya. Kini, setelah banyak diskusi dan modifikasi, standar karbon digunakan. Dalam metoda ini, massa karbon 12C dengan 6 proton dan 6 neutron didefinisikan sebagai 12,0000. Massa atom dari suatu atom adalah massa relatif pada standar ini. Walaupun karbon telah dinyatakan sebagai standar, sebenarnya cara ini dapat dianggap sebagai standar hidrogen yang dimodifikasi.

Soal Latihan 1.1 Perubahan massa atom disebabkan perubahan standar.
Hitung massa atom hidrogen dan karbon menurut standar Berzelius (O = 100). Jawablah dengan menggunakan satu tempat desimal.

Jawab.
Massa atom hidrogen = 1 x (100/16) = 6,25 (6,3), massa atom karbon = 12 x (100/16)=75,0

Massa atom hampir semua unsur sangat dekat dengan bilangan bulat, yakni kelipatan bulat massa atom hidrogen. Hal ini merupakan kosekuensi alami fakta bahwa massa atom hidrogen sama dengan massa proton, yang selanjutnya hampir sama dengan massa neutron, dan massa elektron sangat kecil sehingga dapat diabaikan. Namun, sebagian besar unsur yang ada secara alami adalah campuran beberapa isotop, dan massa atom bergantung pada distribusi isotop. Misalnya, massa atom hidrogen dan oksigen adalah 1,00704 dan 15,9994. Massa atom oksigen sangat dekat dengan nilai 16 agak sedikit lebih kecil.

Latihan Soal 1.2 Perhitungan massa atom.
Hitung massa atom magnesium dengan menggunakan distribusi isotop berikut: 24Mg: 78,70%; 25Mg: 10,13%, 26Mg: 11,17%.

Jawab:
0,7870 x 24 + 0,1013 x 25 +0,1117 x 26 = 18,89+2,533+2,904 = 24,327(sma)
Massa atom Mg = 18,89 + 2,533 + 2,904 =24,327 (sma).

Perbedaan kecil dari massa atom yang ditemukan di tabel periodik (24,305) hasil dari perbedaan cara dalam membulatkan angkanya.

1.3. Stoikiometri

a. Tahap awal stoikiometri

Pada awal sejarah kimia, aspek kuantitatif perubahan kimia, yakni stoikiometri reaksi kimia, tidak mendapat banyak perhatian. Bahkan saat perhatian telah diberikan, teknik dan alat percobaan tidak atau belum menghasilkan hasil yang benar.

Salah satu contohnya melibatkan teori flogiston. Flogistonis mencoba menjelaskan fenomena pembakaran dengan istilah “zat dapat terbakar”. Menurut para flogitonis, pembakaran adalah pelepasan zat dapat terbakar (dari zat yang terbakar). Zat ini yang kemudian disebut ”flogiston”. Berdasarkan teori ini, mereka mendefinisikan pembakaran sebagai pelepasan flogiston dari zat terbakar. Perubahan massa kayu bila terbakar sesuai dengan baik dengan teori ini. Namun, perubahan massa logam ketika dikalsinasi tidak sesuai dengan teori ini. Walaupun demikian flogistonis menerima bahwa kedua proses tersebut pada dasarnya identik. Peningkatan massa logam terkalsinasi adalah merupakan fakta. Flogistonis berusaha menjelaskan anomali ini dengan menyatakan bahwa flogiston bermassa negatif.

Filsuf dari Flanders Jan Baptista van Helmont (1579-1644) melakukan percobaan “willow” yang terkenal. Ia menumbuhkan bibit willow setelah mengukur massa pot bunga dan tanahnya. Karena tidak ada perubahan massa pot bunga dan tanah saat benihnya tumbuh, ia menganggap bahwa massa yang didapatkan hanya karena air yang masuk ke bijih. Ia menyimpulkan bahwa “akar semua materi adalah air”. Berdasarkan pandangan saat ini, hipotesis dan percobaannya jauh dari sempurna, tetapi teorinya adalah contoh yang baik dari sikap aspek kimia kuantitatif yang sedang berkembang. Helmont mengenali pentingnya stoikiometri, dan jelas mendahului zamannya.

Pada akhir abad 18, kimiawan Jerman Jeremias Benjamin Richter (1762-1807) menemukan konsep ekuivalen (dalam istilah kimia modern ekuivalen kimia) dengan pengamatan teliti reaksi asam/basa, yakni hubungan kuantitatif antara asam dan basa dalam reaksi netralisasi. Ekuivalen Richter, atau yang sekarang disebut ekuivalen kimia, mengindikasikan sejumlah tertentu materi dalam reaksi. Satu ekuivalen dalam netralisasi berkaitan dengan hubungan antara sejumlah asam dan sejumlah basa untuk menetralkannya. Pengetahuan yang tepat tentang ekuivalen sangat penting untuk menghasilkan sabun dan serbuk mesiu yang baik. Jadi, pengetahuan seperti ini sangat penting secara praktis.

Pada saat yang sama Lavoisier menetapkan hukum kekekalan massa, dan memberikan dasar konsep ekuivalen dengan percobaannya yang akurat dan kreatif. Jadi, stoikiometri yang menangani aspek kuantitatif reaksi kimia menjadi metodologi dasar kimia. Semua hukum-hukum dasar kimia, dari hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap sampai hukum reaksi gas semua didasarkan pada stoikiometri. Hukum-hukum dasar kimia ini merupakan dasar teori atom, dan secara konsisten dijelaskan dengan teori atom. Namun, menarik untuk dicatat bahwa, konsep ekuivalen digunakan sebelum teori atom dikenalkan.


c. Ion

Atom atau kelompok atom yang memiliki muatan listrik disebut ion. Kation adalah ion yang memiliki muatan positif, sedangkan anion adalah ion yang memiliki muatan negatif. Tarikan listrik akan timbul antara kation dan anion. Dalam kristal natrium khlorida (NaCl) misalnya, ion natrium (Na+) dan ion khlorida (Cl¯) diikat dengan tarikan listrik atau gaya elektrostatik. Jenis ikatan ini disebut ikatan ion.


b. Molekul

Komponen independen netral terkecil materi disebut molekul. Molekul monoatomik terdiri dari satu jenis atom (misalnya, O2). Molekul poliatomik terdiri dari lebih dari satu jenis atom (misalnya, CO2). Jenis ikatan antar atom dalam molekul poliatomik umumnya adalah ikatan kovalen.

Salah satu alasan mengapa diperlukan waktu yang lama sampai teori atom dapat diterima dengan penuh adalah sebagai berikut. Dalam teorinya, Dalton menerima keberadaan molekul (dalam terminologi modern) yang dibentuk oleh kombinasi atom yang berbeda-beda, tetapi ia tidak tidak menerima ide molekul diatomik untuk unsur seperti oksigen, hidrogen atau nitrogen yang telah diteliti dengan intensif pada waktu itu. Dalton percaya pada apa yang disebut “prinsip tersederhana” (alam menyukai yang tersederhana bila lebih dari satu kemungkinan) dan berdasarkan prinsip ini, ia secara otomatis mengasumsikan bahwa unsur seperti hidrogen dan oksigen adalah monoatomik.

Kimiawan Perancis Joseph Louis Gay-Lussac (1778-1850) mengusulkan hukum reaksi gas yang menyatakan bahwa dalam reaksi gas, perbandingan volume adalah bilangan bulat. Teori atom Dalton tidak memberikan rasional hukum ini. Pada tahun 1811, kimiawan Italia Amedeo Avogadro (1776-1856) mengusulkan unsur gas seperti hidrogen dan oksigen yang bukan monoatomik tetapi diatomik. Lebih lanjut, ia juga mengusulkan bahwa pada temperatur dan tekanan tetap, semua gas dalam volume tertentu mengandung jumlah partikel yang sama. Hipotesis ini awalnya disebut hipotesis Avogadro, tetapi kemudian disebut hukum Avogadro.

Hukum Avogadro memberikan dasar penentuan massa atom relatif, yakni massa atom (secara nalar disebut berat atom karena adanya gaya gravitasi). Pentingnya massa atom ini lambat disadari. Kimiawan Italia Stanislao Cannizzaro (1826-1910) menyadari pentingnya hipotesis Avogadro dan validitasnya di International Chemical Congress yang diselenggarakan di Karlsruhe, Jerman, pada tahun 1860, yang diadakan utuk mendiskusikan kesepakatan internasional untuk standar massa atom. Sejak itu, validitas hipotesis Avogadro secara perlahan diterima.


1.2. Komponen-komponen materi

a. Atom
Dunia kita hari ini adalah dunia Kimia yang didasarkan pada teori atom. Satuan terkecil materi adalah atom. Materi didefinisikan sebagai kumpulan atom-atom. Definisi atom adalah komponen terkecil unsur yang tidak akan mengalami perubahan dalam reaksi Kimia sederhana (bukan reaksi inti). Semua atom terdiri atas komponen yang sama, sebuah inti dan elektron-elektron. Diameter inti berkisar antara 10–15-10–14 m, yakni sekitar 1/10.000 besarnya atom. Lebih dari 99 % massa atom terkonsentrasi di inti. Inti terdiri atas proton dan neutron, dan jumlahnya menentukan sifat suatu unsur.

Massa proton sekitar 1,67 x 10–27 kg dan memiliki muatan positif, yaitu 1,60 x 10–19 C (Coulomb). Muatan ini adalah satuan muatan listrik terkecil dan disebut muatan listrik elementer. Inti memiliki muatan listrik positif yang jumlahnya bergantung pada jumlah proton yang dikandungnya. Massa neutron hampir sama dengan massa proton, tetapi neutron tidak memiliki muatan listrik. Elektron adalah partikel dengan satuan muatan negatif, dan suatu atom tertentu mengandung sejumlah elektron yang sama dengan jumlah proton yang ada di inti atomnya pada keadaan dasar. Jadi atom pada keadaan dasar secara listrik bermuatan netral. Sifat partikel-partikel yang menyusun atom dirangkumkan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Sifat partikel penyusun atom.

Massa (kg)
Massa relatif
Muatan listrik (C)
Proton
1,672623 x 10-27
1836
1,602189 x 10-19
Neutron
1,674929 x 10-27
1839
0
Elektron
9,109390 x 10-31
1
-1,602189 x 10-19

Jumlah proton dalam inti disebut nomor atom. Jumah proton dan neutron disebut nomor massa. Karena massa proton dan neutron hampir sama, sedangkan massa elektron jauh lebih kecil sehingga dapat diabaikan dibandingkan massa neutron dan proton, massa suatu atom hampir sama dengan nomor massanya.

Bila nomor atom dan nomor massa suatu atom tertentu dinyatakan, nomor atom ditambahkan di kiri bawah simbol atom sebagai subscript atau indeks bawah, dan nomor massa di kiri atas sebagai superscript atau indeks atas. Misalnya untuk atom karbon dinyatakan sebagai 12­6C karena nomor atom karbon adalah 6 dan nomor massanya adalah 12. Kadang hanya nomor massanya yang dituliskan sebagai 12C.

Jumlah proton dan elektron yang dimiliki oleh suatu unsur menentukan sifat Kimia suatu unsur tersebut. Jumlah neutron mungkin bervariasi. Suatu unsur tertentu akan selalu memiliki nomor atom yang sama walaupun mungkin memiliki jumlah neutron yang berbeda-beda. Varian-varian ini yang disebut isotop. Sebagai contoh hidrogen memiliki isotop yang dituliskan pada tabel 1.2.

Tabel 1.2 Isotop-isotop hidrogen
Simbol
Nama
Jumlah proton
Jumlah neutron
1H
Hidrogen
1
0
2H atau D
Deuterium
1
1
3H atau T
Tritium
1
2


Banyak unsur yang ada secara alami di alam memiliki isotop-isotop. Beberapa memiliki lebih dari dua isotop. Sifat kimia isotop sangat mirip, hanya nomor massanya yang berbeda.


c. Bukti keberadaan atom

Ketika Dalton mengusulkan teori atomnya, teorinya menarik perhatian para ilmuwan dan filsuf pada zamannya. Namun, teori Dalton gagal mendapat dukungan penuh dari para ilmuwan. Beberapa ilmuwan membuat berbagai usaha penting untuk mempersuasi yang melawan teori ini, tetapi beberapa oposisi masih tetap ada. Kimia saat itu belum cukup bukti untuk membuktikan keberadaan atom berdasarkan hasil percobaan eksperimental. Jadi teori atom masih tetap merupakan hipotesis. Lebih lanjut, sains setelah abad ke-18 mengembangkan berbagai percobaan yang membuat banyak ilmuwan menjadi skeptis pada hipotesis atom. Misalnya, kimiawan tenar seperti Sir Humphry Davy (1778-1829) dan Michael Faraday (1791-1867), keduanya dari Inggris, keduanya masih ragu pada kebenaran teori atom.

Sementara teori atom masih tetap hipotesis, berbagai kemajuan besar dibuat di berbagai bidang sains. Salah satunya adalah kemunculan termodinamika yang cepat di abad 19. Kimia struktural saat itu yang direpresentasikan oleh teori atom hanyalah masalah akademik dengan sedikit kemungkinan aplikasi praktis. Tetapi termodinamika yang diturunkan dari isu praktis seperti efisiensi mesin uap nampak lebih penting. Ada kontroversi yang sangat tajam antara pendukung teori atom dengan yang mendukung termodinamika. Debat antara fisikawan Austria Ludwig Boltzmann (1844-1906) dan kimiawan Jerman Friedrich Wilhelm Ostwald (1853-1932) dengan fisikawan Austria Ernest Mach (1838-1916) pantas dicatat. Debat ini berakibat buruk, Boltzmann bunuh diri.

Pada awal abad ke-20, terdapat perubahan besar dalam minat para ahli dan orang terpelajar terhadap sains. Sederet penemuan penting, termasuk keradioaktifan unsur, menimbulkan minat pada sifat atom, dan lebih umum, sains struktural. Bahwa atom ada secara percobaan dikonfirmasi dengan percobaan kesetimbangan sedimentasi oleh Perrin.

Botanis Inggris, Robert Brown (1773-1858) menemukan gerak tak beraturan partikel koloid dan gerakan ini disebut dengan gerak Brown, untuk menghormatinya. Fisikawan Swiss Albert Einstein (1879-1955) mengembangkan teori gerak yang berdasarkan teori atom. Menurut teori ini, gerak Brown dapat diungkapkan dengan persamaan yang memuat bilangan Avogadro.

D =(RT/N).(1/6παη) (1.1)

D adalah gerakan partikel, R tetapan gas, T temperatur, N bilangan Avogadro, α jari-jari partikel dan η viskositas larutan.

Inti ide Perrin adalah sebagai berikut. Partikel koloid bergerak secara acak dengan gerak Brown dan secara simultan mengendap ke bawah oleh pengaruh gravitasi. Kesetimbangan sedimentasi dihasilkan oleh kesetimbangan dua gerak ini, gerak acak dan sedimentasi. Perrin dengan teliti mengamati distribusi partikel koloid dan dengan bantuan persamaan 1.1 dan datanya, ia mendapatkan bilangan Avogadro. Mengejutkan nilai yang didapatkannya cocok dengan bilangan Avogadro yang diperoleh dengan metoda lain yang berbeda. Kecocokan ini selanjutnya membuktikan kebenaran teori atom yang menjadi dasar teori gerak Brown.

Tidak perlu disebutkan, Perrin tidak dapat mengamati atom secara langsung. Apa yang dapat dilakukan ilmuwan waktu itu, termasuk Perrin, adalah menunjukkan bahwa bilangan Avogadro yang didapatkan dari sejumlah metoda yang berbeda berdasarkan teori atom hasilnya identik. Dengan kata lain mereka membuktikan teori atom secara tidak langsung dengan konsistensi logis.

Dalam kerangka kimia modern, metodologi seperti ini masih penting. Bahkan sampai hari ini masih tidak mungkin mengamati langsung partikel sekecil atom dengan mata telanjang atau mikroskop optik. Untuk mengamati langsung dengan sinar tampak, ukuran partikelnya harus lebih besar daripada panjang gelombang sinar tampak. Panjang gelombang sinar tampak ada dalam rentang 4,0 x 
10-7 - 7,0 x 10-7 m, yang besarnya 1000 kali lebih besar daripada ukuran atom. Jadi jelas di luar rentang alat optik untuk mengamati atom. Dengan bantuan alat baru seperti mikroskop elektron (EM) atau scanning tunneling microscope (STM), ketidakmungkinan ini dapat diatasi. Walaupun prinsip mengamati atom dengan alat ini, berbeda dengan apa yang terlibat dengan mengamati bulan atau bunga, kita dapat mengatakan bahwa kita kini dapat mengamati atom secara langsung.

b. Teori atom Dalton

Pada awal abad ke-19, teori atom sebagai filosofi materi telah dikembangkan dengan baik oleh Dalton yang mengembangkan teori atomnya berdasarkan peran atom dalam reaksi kimia. Teori atomnya dirangkumkan sebagai berikut:

Teori atom Dalton: 

(i) partikel dasar yang menyusun unsur adalah atom. Semua atom unsur tertentu identik. 
(ii) massa atom yang berjenis sama akan identik tetapi berbeda dengan massa atom unsur jenis lain. 
(iii) keseluruhan atom terlibat dalam reaksi kimia. Keseluruhan atom akan membentuk senyawa. Jenis dan jumlah atom dalam senyawa tertentu selalu tetap.

Senyawa tertentu selalu mengandung perbandingan massa unsur yang sama. Bila dua unsur A dan B membentuk sederet senyawa, rasio massa B yang bereaksi dengan sejumlah A dapat direduksi menjadi bilangan bulat sederhana.

Dasar teoritik teori atom Dalton terutama didasarkan pada hukum kekekalan massa dan hukum perbandingan tetap, keduanya telah ditemukan sebelumnya, dan hukum perbandingan berganda yang dikembangkan oleh Dalton sendiri.

Atom Democritos dapat dikatakan sebagai sejenis miniatur materi. Jadi jumlah jenis atom akan sama dengan jumlah materi. Di sisi lain, atom Dalton adalah penyusun materi dan banyak senyawa dapat dibentuk oleh sejumlah terbatas atom. Jadi, akan terdapat sejumlah terbatas jenis atom. Teori atom Dalton mensyaratkan proses dua atau lebih atom bergabung membentuk materi. Hal ini merupakan alasan mengapa atom Dalton disebut atom kimia.



a. Teori atom kuno

Sebagaimana disebut sebelumnya, cikal bakal atau embrio kimia modern adalah teori atom yang dikembangkan oleh filsuf Yunani kuno. Filsafat atomik Yunani kuno sering dihubungkan dengan tokoh Democritos (kira-kira 460SM- 370M). Namun, tidak ada tulisan Democritos yang masih tertinggal. Oleh karena itu, sumber yang dapat kita rujuk haruslah puisi panjang “De rerum natura” yang ditulis oleh seniman Romawi Lucretius (kira-kira 96 SM- 55 M).

Atom yang dipaparkan oleh Lucretius memiliki kemiripan dengan molekul modern. Anggur (wine) dan minyak zaitun, misalnya memiliki atom-atom sendiri. Atom adalah entitas abstrak. Atom memiliki bentuk yang khas dengan fungsi yang sesuai dengan bentuknya. ”Atom anggur bulat dan mulus sehingga dapat melewati kerongkongan dengan mulus sementara atom kina kasar dan akan sukar melalui kerongkongan”. Teori struktural modern molekul menyatakan bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara struktur molekul dan fungsinya.

Walaupun filosofi yang terartikulasi oleh Lucretius tidak didukung oleh bukti yang didapat dari percobaan, ini dapat dirujuk sebagai awal lahirnya kimia. Dalam periode yang panjang sejak zaman kuno sampai zaman pertengahan, teori atom tetap In heretikal (artinya berlwanan dengan teori yang umum diterima) sebab teori empat unsur (air, tanah, udara dan api) yang diusulkan oleh filsuf Yunani kuno Aristotole (384 SM-322 M) masih sangat mendominasi. Ketika otoritas Aristotle mulai menurun pada awal abad modern, banyak filsuf dan ilmuwan mulai mengembangkan teori yang dipengaruhi teori atom Yunani. Gambaran materi tetap dipegang oleh filsuf Perancis Rene Descartes (1596-1650), filsuf Jerman Gottfried Wilhelm Freiherr von Leibniz (1646-1716), dan ilmuwan Inggris Sir Issac Newton (1642-1727) yang lebih kurang dipengaruhi oleh teori atom.



Kimia Dasar

Pengantar Kimia Dasar

1 Sejarah Kimia 
1.1 Lahirnya kimia
a Teori atom kuno
b Teori atom Dalton
c Bukti keberadaan atom
1.2 Komponen-komponen materi
a Atom 
b Molekul
c Ion
1.3 Stoikiometri 
a Tahap awal stoikiometri
b Massa atom relatif dan massa atom
c Massa molekul dan massa rumus
d Kuantitas materi dan mol 
e Satuan massa atom (sma) 
Selingan: Siapa Pendiri Kimia
Latihan


2 Struktur Atom
2.1 Penemuan elektron
2.2 Model atom 
a Ukuran atom
b Penemuan inti atom
2.3 Dasar-dasar teori kuantum klasik 
a Spektrum atom
b Teori Bohr
c Spektra atom hidrogen 
d Hukum Moseley
e Keterbatasan teori Bohr 
2.4 Kelahiran mekanika kuantum 
a Sifat gelombang partikel 
b Prinsip ketidakpastian 
c Persamaan Schrödinger
d Orbital

3 Ikatan Kimia
3.1 Teori ikatan kimia sebelum abad 20 
a Afinitas kimia
b Dualisme Elektrokimia
c Teori Valensi
3.2 Teori ikatan kimia berdasarkan teori Bohr
a Ikatan ionik 
b Ikatan kovalen
c Ikatan koordinat 
3.3 Teori kuantum ikatan kimia
a Metoda Heitler dan London 
b Pendekatan ikatan valensi
c Pendekatan orbital molekul
3.4 Jenis ikatan kimia lain
a Ikatan logam
b Ikatan hidrogen
c Ikatan Van der Waals

4 Bentuk Molekul
4.1 Struktur molekul sederhana
a Teori tolakan pasangan elektron valensi 
b Hibridisasi orbital atom
4.2 Struktur senyawa karbon
a Keisomeran karena atom karbon asimetrik, keisomeran optik
b Isomer geometri 
c Struktur benzen 
d Struktur etana: analisis konformasional 
4.3 Struktur senyawa anorganik

5 Sistem Periodik
5.1 Tabel Periodik
a Usulan-usulan sebelum Mendeleev
b Prediksi Mendeleev dan kebenarannya 
c Tabel Periodik dan konfigurasi elektron
5.2 Sifat periodik unsur
a Energi Ionisasi pertama
b Afinitas elektron dan keelektronegatifan 
c Bilangan oksidasi atom
d Ukuran atom dan ion
5.3 Keperiodikan sifat senyawa sederhana 
a Keperiodikan sifat oksida
b Keperiodikan sifat hidrida

6 Gas
6.1 Hukum gas ideal
a Sifat gas
b Volume dan tekanan
c Volume dan temperatur
d Persamaan gas ideal
e Hukum tekanan parsial
6.2 Gas ideal dan gas nyata 
a Persamaan keadaan van der Waals
b Temperatur dan tekanan kritis
c Pencairan gas 
6.3 Teori kinetik molekular gas 

7 Cairan dan Larutan
7.1 Karakteristik Cairan
7.2 Sifat Cairan
a Tekanan uap
b Titik didih
c Titik beku
7.3 Kesetimbangan fasa dan diagram fasa
7.4 Larutan
a Konsentrasi
b Tekanan uap
c Larutan ideal dan nyata 
d Kenaikan titik didih dan penurunan titik beku 
e Tekanan osmosis
f Viskositas
g Tegangan permukaan

8 Padatan
8.1 Padatan kristalin dan amorf
a Bahan kristalin
b Padatan amorf
8.2 Struktur padatan kristalin
a Susunan terjejal
b Kubus berpusat badan
c Analisis kristalografi sinar-X
8.3 Berbagai kristal 
a Kristal logam
b Kristal ionik
c Kristal molekular
d Kristal kovalen
e Kristal cair

9 Asam dan Basa
9.1 Pembentukan konsep asam dan basa 
9.2 Teori asam basa
a Kesetimbangan kimia
b Kesetimbangan disosiasi elektrolit
c Teori disosiasi elektrolit Arrhenius
d Teori BrΦnsted dan Lowry
e Disosiasi asam dan basa
f Teori asam basa Lewis
9.3 Netralisasi
a Netralisasi
b Garam
c Kurva titrasi
d Kerja bufer 
e Indikator

10 Oksidasi dan Reduksi
10.1 Konsep oksidasi-reduksi
a Penemuan oksigen
b Peran hidrogen 
c Peran elektron 
d Oksidan dan reduktan (bahan pengoksidasi dan pereduksi)
e Bilangan oksidasi
f Penyusunan persamaan reduksi oksidasi
10.2 Sel Galvani(Elektrik) 
a Struktur sel 
10.3 Potensial (gaya gerak listrik) sel 
a Standarisasi potensial
b Potensial elektroda normal
c Persamaan Nernst
10.4 Sel-sel yang digunakan dalam praktek
a Baterai timbal
b Sel lain 
c Sel Bahan Bakar
10.5 Elektrolisis 
a Sel dan elektrolisis 
b Hukum elektrolisis Faraday 
c Elektrolisis penting di industri

11 Sintesis Material
11.1 Lahirnya konsep sintesis
11.2 Sintesis bahan anorganik industri 
a Natrium karbonat (Na2CO3)
b Asam sulfat
c Amonia dan asam nitrat
11.3 Sintesis organik
a Reaksi Grignard 
b The Diels-Alder reaction
c Sintesis asimetrik

12 Pemurnian Material
12.1 Material murni dan campuran 
12.2 Analisis unsur 
12.3 Metoda pemisahan standar
a Filtrasi 
b Adsorpsi 
c Rekristalisasi
d Distilasi 
e Ekstraksi
12.4 Kromatografi
a Kromatografi partisi
b Paper kromatografi
c Kromatografi gas
d HPLC

13 Penentuan Struktur Material
13.1 Awal mula penentuan struktur
a Uji titik leleh campuran
b Penggunaan turunan padatan
c Perbandingan sifat fisik
d Reaksi kalitatif 
13.2 Metoda spektroskopik
a Spektroskopi UV-VIS 
b Spektroskopi Infra merah (IR) 
13.3 Spektroskopi NMR
a Prinsip 
b Kopiling spin-spin

14 Kimia abad 21
14.1 Pandangan baru tentang materi 
a Deteksi interaksi lemah
b Senyawa klatrat
c Penemuan eter mahkota 
d Kimia susunan molekular (molecular assemblies)
e Kimia supramolekul
14.2 Kesetimbangan dengan alam 
a Efek “skala besar” zat
b Kimia lingkungan

1.1. Lahirnya Kimia

Perkembangan kimia mengalami kemajuan sejak kimiawan Perancis Antoine Laurent Lavoisier (1743-1794) menemukan hukum kekekalan massa dalam reaksi kimia dan mengungkap peran oksigen dalam pembakaran. Berdasarkan prinsip ini, kimia maju di arah yang benar.

Sebenarnya oksigen ditemukan secara independen oleh dua kimiawan, yaitu kimiawan Inggris Joseph Priestley (1733-1804) dan kimiawan Swedia Carl Wilhelm Scheele (1742-1786) pada penghujung abad ke-18. Kimia merupakan ilmu pengetahuan yang relatif muda bila dibandingkan dengan fisika dan matematika, karena keduanya telah berkembang beberapa ribu tahun sebelumnya. Fisika dan matematika modern memberi kontribusi besar terhadap lajunya perkembangan kimia modern. Terutama setelah ditemukan peralatan labolatorium modern.

Namun demikian alkimia, metalurgi dan farmasi di zaman kuno dapat dianggap sebagai cikal bakal kimia. Banyak penemuan yang dijumpai oleh orang-orang yang terlibat aktif di bidang-bidang ini berkontribusi besar pada kimia modern walaupun alkimia didasarkan atas teori yang belum atau tidak ilmiah sama sekali. Lebih lanjut, sebelum abad ke-18, metalurgi dan farmasi sebenarnya didasarkan atas pengalaman saja dan bukan teori ilmiah. Jadi, nampaknya tidak mungkin titik-titik awal ini yang kemudian berkembang menjadi kimia modern. Berdasarkan hal-hal ini dan sifat kimia modern yang terorganisir dengan baik dan sistematik metodologinya, akar sebenarnya kimia modern mungkin dapat kita temui dalam filsafat Yunani kuno.

Jalan dari filsafat Yunani kuno ke teori atom modern tidak selalu mulus. Pada era Yunani kuno, ada perselisihan yang tajam antara teori atom dan penolakan keberadaan atom. Sebenarnya, teori atom tetap tidak ortodoks dalam dunia kimia dan sains. Orang-orang terpelajar tidak tertarik pada teori atom sampai dengan abad ke-18. Baru pada awal abad ke-19, kimiawan Inggris John Dalton (1766-1844) melahirkan ulang teori atom Yunani kuno. Bahkan setelah kelahiran kembali inipun tidak semua ilmuwan menerima teori atom. Belum sampai ke abad 20, teori atom akhirnya dapat dibuktikan sebagai fakta, bukan hanya hipotesis. Hal ini dicapai dengan percobaan yang terampil oleh kimiawan Perancis Jean Baptiste Perrin (1870-1942). Jadi, perlu waktu yang cukup panjang untuk menetapkan dasar kimia modern.

Sebagaimana dicatat sebelumnya, kimia adalah ilmu yang relatif muda jika dibandingkan dengan fisika dan matematika. Akibatnya, banyak yang masih harus dikerjakan sebelum kimia dapat mengklaim sebagai ilmu yang mempelajari materi dan perubahannya melalui pemahaman materi (zat) dapat memahami alam semesta. Jadi, sangat penting pada saat awal pembelajaran kimia mahasiswa harus mempelajari dan meninjau ulang secara singkat bagaimana kimia berkembang sejak kelahirannya.

1. Sejarah Kimia

Sejarah kimia dapat diperkirakan dimulai sejak para filsuf membedakan antara kimia dengan alkimia. Pada awalnya dimulai oleh Robert Boyle melalui karyanya dalam tulisannya yang berjudul The Sceptical Chymist (1661). Dengan demikian, Boyle dikenal sebagai Bapak Kimia. Baik alkimia maupun kimia keduanya mempelajari sifat materi dan perubahan-perubahannya tetapi yang membedakan alkimiawan dengan kimiawan adalah bahwa kimiawan menerapkan metode ilmiah. Metode ilmiah menekankan pada fakta dan bukti-bukti empiris yang didasarkan pada hasil pengukuran dan eksperimental. Sejarah kimia bertalian dengan sejarah termodinamika, terutama melalui karya Willard Gibbs. 

Sejarah kimia yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan kimia modern adalah penemuan tabel periodik unsur oleh Dmitri Mendeleev. Tentu saja sejarah kimia modern telah didahului oleh perkembangan teori atom. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mempelajari terlebih dahulu tentang lahirnya teori atom sebelum selanjutnya mempelajari kimia lebih jauh.

Kimia modern berdasarkan atas teori atom. Untuk memahami teori atom, pertama kita harus mempelajari hukum-hukum dasar kimia (fundamental) mencakup hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap, dan hukum perbandingan berganda. Hukum-hukum ini adalah dasar teori atom dan pada saat yang sama merepresentasikan kesimpulan yang ditarik dari teori atom.

Namun, teori atom sendiri tidaklah lengkap. Kimia dapat menjadi sistem yang konsisten sejak teori atom dikombinasikan dengan konsep molekul. Di masa lalu, keberadaan atom hanyalah hipotesis. Pada awal abad ke-20 teori atom akhirnya terbukti. Juga menjadi jelas bahwa atom terdiri atas partikel-partikel yang lebih kecil. Teori atom saat ini secara pelahan berkembang sejalan dengan perkembangan ini dan menjadi kerangka dunia material.


Friday, March 31, 2017

Pengantar Kimia Dasar


BUKU TEKS PENGANTAR KIMIA

Yashito Takeuchi,

diterjemahkan dari versi Bahasa Inggrisnya

oleh Ismunandar

MUKI KAGAKU by Taro Saito

© 2006 by Yashito Takeuchi

Reproduced by permission of Iwanami Shoten, Publishers, Tokyo

Sesuai dengan kesepakatan dengan Iwamani Shoten, buku online ini, hanya diperbolehkan digunakan dalam bentuk file elektronik, digunakan hanya untuk tujuan

pendidikan, untuk guru, siswa, dosen, dan mahasiswa sarjana dan pascasarjana. Tidak boleh didistribusikan dalam bentuk tercetak.

Pengantar Kimia


Pengantar Penerjemah

Untuk mengatasi keterbatasan akses pada buku teks dan masalah bahasa, maka saya berinisiatif menerjemahkan buku elektronik ini, yang dapat diakses gratis. Buku versi internet ini adalah sebagai buku gratis untuk mahasiswa yang memiliki akses terbatas pada buku cetak dan menghadapai masalah bahasa dalam membaca buku bahasa asing. Saya berharap pembaca dapat mengambil manfaat dari buku ini. Saya menyampaikan terimakasih kepada Professor Ito atas bantuannya merealisasikan proyek ini dan kepada Iwanami Publishing Company yang mengizinkan publikasi edisi internet tanpa mengklaim royalty. Terimakasih pula kepada Dr. Bambang Prijamboedi yang telah membaca dan memberikan beberapa koreksi akhir.

Ismunandar

Prakata Buku teks ini awalnya ditulis dalam bahasa Jepang sebagai volume pertama seri “Pengantar Kimia” (ada total delapan buku) yang diterbitkan oleh Iwanami Publishing Co. pada tahun 1996. Tujuan penulis menulis buku teks, ”Kimia Dasar”, adalah memberikan petunjuk kompak pda kimia modern tidak hanya bagi mahasiswa tahun pertama yang akan berkonsentrasi pada bidang sains/teknologi, tetapi juga bagi apa yang disebut sebagai pelajar “seni” atau warga masyarakat umum. Akibatnya, tidak terlalu banyak matematik. Namun, sejumlah cukup halaman dialokasikan sebagai pendahuluan pada kimia struktural (Bab 1-4). Menurut penulis, konsep of orbital dan geometrinya merupakan bagian yang paling penting kimia dasar. Tanpa pengetahuan ini, seseorang tidak akan pernah memahami bagian penting kimia modern, yakni hubungan struktur molekular dan fungsinya. Bagian kedua dalam Bab 11-13. Dengan mempelajari bab-bab ini, pelajar dapat melihat apa yang dilakukan kimiawan (khususnya kimiawan di laboratorium) dalam kesehariannya di laboratorium. Pelajar dapat pada saat yang sama mempelajari rasa metodologi kimia modern. Akhirnya, bab 14 secara ringkas memaparkan aspek sosiologi kimia modern yang secara alami mencakup isu lingkungan. Peran kimia dalam mempertahankan masyarakat yang berkelanjutan juga didiskusikan. Harus disampaikan bahwa penggunaan model moekular (misalnya model molekular HGS) akan membuat studi beberapa bab (khususnya bab 1, 2, 3 dan 9) jauh lebih mudah. Alasannya jelas. Molekul adalah objek 3-dimensi. Struktur molekular yang dicetak di buku ini jelas berupa gambar 2-dimensi. Kemampuan gambar 2-dimensi untuk menampilkan informasi 3-dimensi jelas terbatas. Akhirnya pengarang ingin menyampaikan terimakasih yang tulus pada Prof. M. M. Ito, anggota IUPAC CCE, atas usaha kerasnya dari awal proyek ini. Tanpa inisiatif dan kerjanya, proyek ini tidak akan pernah terwujud. Penulis juga memberikan penghargaan yang tinggi pada bantuan Professor Emeritus E. E. Daub, University of Wisconsin, atas kebaikannya memikul tanggung jawab membaca manuskrip berbahasa Inggris dan memberikan masukkan.

Buku ini ditulis dengan memperhatikan penulisan yang di dasarkan pada metode ilmiah. Buku ini juga berisi latihan soal yang bagus digunakan untuk persiapan latihan soal un kimia bagi siswa SMA.

Download bukunya

Download Sekarang