Showing posts with label penilaian pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label penilaian pembelajaran. Show all posts

Sunday, May 14, 2017

Teknik pengumpulan data atau penilaian dengan observasi atau pengamatan

Teknik pengumpulan data atau penilaian dengan observasi atau pengamatan

Observasi atau pengamatan adalah salah satu teknik penilaian atau teknik pengumpulan data untuk mengukur tingkah laku individu ataupun proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati baik dalam situasi sebenarnya atau dalam situasi yang dimanipulasi. Observasi atau pengamatan dapat digunakan sebagai cara untuk mengukur atau menilai hasil dan proses belajar mengajar misalnya tingkah laku siswa pada waktu belajar, tingkah laku guru pada waktu mengajar, kegiatan diskusi siswa, partisipasi siswa dalam pembelajaran, dan penggunaan alat bantu belajar mengajar.

Ada tiga jenis observasi yaitu obsevasi langsung, observasi tidak langsung dan observasi partisipasi. Observasi langsung adalah pengamatan yang dilakukan terhadap gejala atau proses yang terjadi dalam situasi yang sebenarnya dan langsung diamati oleh pengamat. Observasi tidak langsung dilaksanakan dengan alat bantu misalnya rekaman suara, rekaman video. Observasi partisipasi dilaksanakan dengan cara sipengamat terlibat atau berpartisipasi atau ikut serta dalam kegiatan yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok yang diamati.

Langkah dalam menyusun pedoman observasi atau pedoman pengamatan adalah:
1. lakukan terlebih dahulu observasi langsung terhadap suatu proses tingkah laku, misalnya penampilan guru di kelas. Lalu catat kegiatan yang dilakukan dari awal hingga akir pelajaran. Hal ini untuk menentukan jenis perilaku guru yang akan diukur pada saat melakukan pengamatan nantinya.
2. Tentukan segi-segi mana dari perilaku guru tersebut yang akan diamati berkaitan dengan data yang diperlukan. Urutkan tingkah laku tersebut misalnya berdasarkan teori mengajar (metode atau model pembelajaran tertentu). Rumusan tingkah laku harus jelas dan spesifik agar mudah diamati oleh pengamat.
3. Tentukan bentu pedoman observasi tersebut yaitu bentuk bebas atau bentuk berstruktur. Bila bentuk berstruktur, tentukan pilihan jawaban dan indikatornya.
4. Sebelum observasi atau pengamatan dilakukan, diskusikan dahulu pedoman observasi atau pedoman pengamatan yang telah dibuat dengan calon pengamat atau observan agar setiap segi yang diamati dapat dipahami maknanya dan bagaimana cara mengisinya.
5. Bila ada hal khusus yang menarik, tetapi tidak ada dalam pedoman observasi, sebaiknya disediakan tempat catatan khusus atau kolom komentar bagi pengamat pada lembar observasi atau lembar pengamatan.

Observasi atau pengamatan untuk menilai proses dan hasil belajar siswa dapat dilaksanakan oleh guru di kelas pada saat siswa melakukan kegiatan belajar, karena tidak bisa guru sambil mengajar sambil mengamati setiap siswa. Kalaupun bisa, tentukan siswa yang menjadi fokusnya misalnya siswa yang berprestasi rendah atau siswa yang nakal. Pada saat kegiatan siswa belajar misalnya diskusi kelompok, guru dapat memperhatikan perilaku setiap siswa dan mencatat hal-hal khusus yang perlu sesuia dengan pedoman atau kriteria yang telah ditentukan. Misalnya hubungan sosial siswa saat diskusi, partisipasi siswa dalam diskusi dan tanggungjawab individu mengerjakan tugas. Hasil pekerjaan siswapun dapat digunakan sebagai data pengamatan misalnya ketelitian, ketepatan jawaban, tulisan dan bahasa.

contoh skala sikap untuk mata pelajaran kimia

Skala sikap siswa terhadap mata pelajaran kimia

Jenis kelamin:
Umur:
Kelas/semester:

Petunjuk:
terhadap setiap pernyataan di bawah ini Anda diminta menilainya dengan cara memilih salah satu di antara sangat setuju (SS), setuju (S), tidak berpendapat (TB), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS).

No.    Pernyataan                                                                      SS   S   TB   TS   STS
1. Saya tidak perlu memahami tujuan mata pelajaran kimia
2. Pelajaran kimia harus menarik minat siswa
3. Konsep-konsep dalam kimia sangat abstrak
4. Isi mata pelajaran kimia tidak sesuai dengan kehidupan nyata
5. Mempelajari kimia sangat sulit
6. Konsep kimia perlu dipelajari dengan alat bantu
7. Saya merasa untuk mempelajari kimia perlu banyak latihan
8. Sebaiknya konsep kimia dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari
9. Saya merasa banyak praktik kehidupan sehari-hari yang
memerlukan pemecahan dengan konsep kimia.
10. saya senang bila guru kimia memberikan tugas pekerjaan
rumah
11. Saya berpendapat bahwa kimia tidak sulit apabila dikerjakan
dengan sungguh-sungguh.
12. Mempelajari konsep kimia memerlukan banyak sumber.
13. Semakin banyak sumber materi kimia yang saya pelajari,
semakin jelas konsep-konsepnya.
14. Semakin banyak latihan soal kimia, semakin tinggi pemahanan
saya terhadap konsep kimia.
15. Paham terhadap konsep kimia tidak berarti saya senang
terhadap pelajarn kimia.


Tanda tangan



(tidak perlu tuliskan nama)

Berilah skor terhadap jawaban siswa dengan ketentuan yang konsisten:
Pernyataan positif SS=5, S=4, TB=3, TS=2, STS=1.
Pernyataan negatif SS=1, S=2, TB=3, TS=4, STS=5.
Dengan demikian skor maksimal yang dapat dicapai oleh siswa adalah 75 skor terendah adalah 15.

Kategori skor
60-75             Sikap positif
45-59             Sikap netral
15-44             Sikap negatif

Demikian contoh skala sikap untuk mata pelajaran kimia.

Skala Sikap (skala likert)

Skala sikap digunakan untuk mengukur sikap seseorang terhadap objek tertentu. Hasilnya berupa kategori sikap misalnya mendukung (positif), menolak (negatif) dan netral. Sikap didefinisikan sebagai kecenderungan berperilaku pada diri seseorang. Sikap dapat juga diartikan reaksi seseorang terhadap suatu rangsangan yang datang kepada dirinya.

Ada tiga komponen sikap yaitu kognisi, afeksi dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek atau rangsangan yang dihadapinya, afeksi berkenanan dengan perasaan dalam menanggapi objek atau rangsangan tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan bertindak terhadap objek atau rangsangan tertentu. Oleh karena itu, sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek atau rangsangan tertentu, misal sikap siswa terhadap mata pelajaran, sikap mahasiswa terhadap pendidika kimia, atau sikap guru terhadap siswa.

Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan tersebut didukung atau ditolak, bisa menggunkan rentangan nilai tertentu. Oleh karena itu, pernyataan dibagi dalam dua kategori positif dan negatif dengan kategori respon bisa mendukung, netral atau menolak.

Skala Likert adalah salah satu skala yang paling sering digunakan. Dalam skala Likert peryataan diajukan dalam bentuk pernyataan positif dan pernyataan negatif yang dinilai oleh responden sanagt setuju, setuju, tidak berpendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju. Skor yang diberikan terhadap pilihan tersebut bergantung pada penilai asal penggunaannya konsisten.

Contoh:

Pernyataan sikap                                                 SS  S  TB   TS  STS
Pernyataan Positif                                                2   1    0     -1    -2
                                                                          5   4    3      2     1
Pernyataan negatif                                               -2  -1   0      1     2
                                                                          5    4   3      2     1

Keterangan:
SS: sangat setuju
S:Setuju
TB:Tidak Berpendapat
TS:Tidak Setuju
STS:Sangat Tidak Setuju

Pernyataan sikap selain kategori positif dan negatif harus juga mencerminkan dimensi sikap kognisi, afeksi dan konasi.

Contoh:
1. Saya senang belajar kimia yang berkaitang dengan struktur atom. (+, afeksi)
2. Saya merasa sulit menyisihkan waktu untuk menyelesaikan tugas berkaitan dengan pelajaran struktur atom (-, afeksi)
3. Saya berpendapat bahwa pelajaran struktur atom memerlukan bantuan atau pengetahuan prasyarat dari materi kimia yang lain. (+, kognisi)
4. Saya sering meminta pendapat teman mengenai kekurangan atau kesalahan jawaban saya pada materi struktur atom. (+, konasi)
5. Saya merasa telah cukup menguasai materi pelajaran struktur atom (-, afeksi)

Dalam menyusun skala Likert perlu memperhatikan:
1) tentukan objek yang dituju kemudian tetapkan variabel yang akan diukur dengan skala Likert.
2) Lakukan analisis variabel tersebut menjadi beberapa subvariabel atau dimensi variabel, lalu kembangkan indikator setiap dimensi tersebut.
3) dari setiap indikator, tentukan ruang lingkup pernyataan sikap yang berkenaan dengan aspek kognisi, afeksi dan konasi terhadap objek sikap.
4) susunlah pernyataan untuk masing-masing aspek tersebut dalam dua kategori yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif secara seimbang banyaknya.

Contoh subvariabel dari variabel sikap guru terhadap profesinya sebagai guru:
1. sikap terhadap diri sendiri
2. sikap terhadap bidang ilmu
3. sikap terhadap profesi pendidikan
4. sikap terhadap peserta didik

Contoh Indikator subvariabel:
1. sikap terhadap diri sendiri
a. menerima jabatan sebagai guru
b. penampilan diri
c. sadar akan kemampuan dan kelemahan diri
2. sikap terhadap bidang ilmu
a. kemauana memperdalam ilmu
b. toleransi terhadap bidang ilmu lain
c. menyenangi bidang ilmunya
3. sikap terhadap profesi pendidikan
a. paham dan yakin akan pentingnya pendidikan
b. pengabdian terhadap jabatan guru
c. kemauan mengembagkan ilmu pendidikan
d. kemauan untuk meningkatkan kinerja profesi guru sebagai pendidik
4. sikap terhadap peserta didik
a. menyayangi peserta didik
b. menyadari adanya perbedaan di antara individu-individu peserta didik
c. kemamuan untuk mengembangkan potensi peserta didik

contoh sikap siswa terhadap mata pelajaran kimia, subvariabelnya antara lain:
1. sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran kimia
2. sikap terhadap cara mempelajari mata pelajaran kimia
3. sikap terhadap guru yang mengajarkan mata pelajaran kimia
4. sikap terhadap upaya siswa memperdalam mata pelajaran kimia

indikator suvariabelnya antara lain:
1. sikap terhadap tujuan dan isi mata pelajaran kimia
a. paham dan yakin akan pentingnya tujuan dan isi mata pelajaran kimia
b. kemamuan untuk mempelajari materi pelajaran kimia
c. kemauan untuk menerapkan atau menggunakan konsep kimia
d. senang mempelajari buku pelajaran kimia
2...dst


Skala Penilaian

Skala penilaian digunakan untuk mengukur penampilan (performance) atau perilaku siswa atau guru oleh siswa lain ataupun guru melalui pernyataan perilaku individu pada suatu titik kontinum atau suatu kategori yang bermakna nilai. Titik atau kategori diberi nilai rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Rentangan ini bisa dalam bentuk huruf atau angka, sedangkan rentangan kategori seperti tinggi, sedang, rendah atau baik, sedang, kurang.

Contoh:
Skala Penilaian Penampilan Guru Mengajar

Nama Guru:
Mata Pelajaran:

No.    Pernyataan                                                Skala Nilai
                                                                        A         B        C      D
1.   Penguasaan Materi Ajar
2.   Interaksi dengan siswa
3.   Bahasa yang digunakan
4.   Penguasaan Metode mengaar
5.   Penguasaan alat bantu mengajar
6.   Respon terhadap pertanyaan siswa
7.   ....dst

Keterangan
A: Baik sekali              C: cukup
B: Baik                       D: kurang

Hal yang penting diperhatikan dalam skala penilaian adalah kriteri skala nilai,yaitu penjelasan operasional untuk setiap alternatif jawaban (A,B,C,D). Adanya kriteria yang jelas untuk setiap alternatif jawaban akan mempermudah pemberian nilai dan terhindar dari subjektifitas penilai.

Misal untuk pernyataan 1.
A: jika guru dapat menjelaskan secara lengkap tujuan pelajaran, materi ajar beserta contoh dan latihan soal dengan tepat dan terampil.
B: jika guru ...
C:..
D; jika penjelasan guru kurang lengkap, tidak mencakup semua tujuan pelajaran, tidak disertai contoh dan latihan soal.

Skala nilai diatas dapat juga menggunakan kategori baik sekali, baik, cukup, kurang atau angka 4, 3, 2, 1. Jumlah skor maksimal adalah jumlah butir pernyataan x 4, dalam contoh diatas 6 x 4 = 24, skor, terendah 1 x 6 = 6.

Skala penilaian komparatif, jika penilaian dibandingkan dengan penampilan guru lain. Misal A baik sekali, B lebih baik dari guru X, C sama dengan guru X, D kurang dari guru X.

Skala Penilaian lebih tepat digunakan untuk mengukur suatu proses misalnya proses mengajar guru atau proses belajar siswa., atau hasil siswa dala bentuk perilaku, keterampilan, hubungan sosial.

Penyusunan skala penilaian memperhatikan hal-hal berikut:
a. Tentukan tujuan yang akan dicapai dari skala penilaian ini sehingga jelas apa yang seharusnya dinilai.
b. Berdasarkan tujuan tersebut tentukan aspek atau variabel yang akan diungkap melalui instrumen ini.
c. Tetapkan bentuk rentangan nilai yang akan digunakan misalnya nilai angka atau kategori.
d. Buat pedoman untuk mengolah dan menafsirkan data yang diperoleh dari penilaian.

Penialaian dapat dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk menghindari subjektifitas penilai.

Skala yang dibuat hanya dengan kategori ya dan tidak atau ada dan tidak ada disebut daftar check list.


Tuesday, May 9, 2017

Teknik penilaian/ alat pengumpulan data: kuesioner dan contoh kuesioner

Penilaian menggunakan kuesioner bersifat praktis, hemat waktu, tenaga dan biaya. Namun, jawaban yang diberikan responden mungkin kurang objektif, lebih lebih bila pertanyaan yang diajukan kurang tajam. Sama seperti wawancara, kuesioner dapat dibagi menjadi dua yaitu: kuesioner berstruktur dan kuesioner terbuka.

Penyampaian kuesioner dapat dilakukan secara langsung atau dapat juga dikirim melalui pos. Cara langsung dengan membagikan kuesioner kepada siswa, kemudian setelah diisi dikumpulkan lagi. Cara pengiriman melalui pos tidak menjamin semua pasti dikembalikan, oleh karena itu cara ini harus menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden lebih banyak dari yang diperlukan.

Petunjuk teknis dalam menyusun kuesioner adalah sebagai berikut:
1) mulai dengan pengantar yang isinya permohonan mengisi kuesioner sambil dijelaskan maksud dan tujuannya.
2) jelaskan petunjuk atau cara mengisinya supaya tidak salah, bila perlu berikan contoh.
3) mulai dengan pertanyaan untuk mengungkapkan identitas responden. Dalam identitas ini sebaiknya tidak diminta mengisi nama. Identitas cukup menuliskan jenis kelamin, usia, pendidikan, pekerjaan, pengalaman dan hal-hal umum yang berkaitan dengan tujuan kuesioner.
4) isi pertanyaan sebaiknya dibuat beberapa kategori atau bagian sesuai dengan variabel yang diungkapkan sehingga mudah mengolahnya.
5) rumusan pertanyaan dibuat singkat, tetapi jelas sehingga tidak membingungkan dan tidak mengakibatkan salah penafsiran.
6) hubungan antara pertanyaan yang satu dengan pertanyaan yang lain harus dijaga sehingga tampak logikanya dalam satu rangkaian yang sitematis. Hindari penggolongan pertanyaan terhadap persoalan yang sama.
7) usahakan kemungkinan agar jawaban, kalimat atau rumusannya tidak lebih panjang dari pada pertanyaan.
8) kuesioner yang terlalu banyak atau terlalu panjang akan melelahkan dan membosankan responden sehingga pengisiannya tidak objektif lagi.
9) ada baiknya kuesioner diakhiri dengan tanda tangan tanpa nama si pengisi untuk menjamin keabsahan jawabannya.

Untuk menguji validitasnya, dapat dilakukan wawancara kepada beberapa responden secara acak dengan pertanyaan yang identik pada kuesioner.

Tujuan penggunaan kuesioner dalam penilaian proses dan hasil belajar mengajar adalah:
1) untuk memperoleh data mengenai latar belakang siswa sebagai bahan dalam menganalisis tingkah laku siswa, hasil dan proses belajarnya.
2) untuk memperoleh data mengenai hasil belajar yang dicapainya dan proses belajar yang ditempuhnya.
3) untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program belajar mengajar.

Kuesioner untuk tujuan pertama dapat disusun dalam bentuk pertanyaan bersturktur ataupun terbuka untuk mengungkapkan antara lain:
a) identitas siswa seperti jenis kelamin, usia, agama, keadaan fisik, hobi atau kegemaran, dan mata pelajaran yang disenangi.
b) latar belakang keluarga seperti pekerjaan orang tua, pendidkan orang tua, anak keberapa, jumlah saudara kandung, status dalam keluarga, fasilitas belajar dirumah.
c) latar belakang lingkungan siswa seperti alamat tempat tinggal, status perumahan, suasana keagamaan, aktivitas dalam organisasi kemasyarakatan, pemanfaatan waktu senggang dan kelompok bermain.

Kuesioner untuk tujuan kedua, mengungkapakan beberapa aspek seperti hasil belajar yang dicapainya, kesulitan belajar, cara belajar, fasilitas belajar, bimbingan yang diperlukan, motivasi dan minat belajar, sikap terhadap belajar, sikap terhadap mata pelajaran, pandangan siswa terhadap proses belajar mengajar, dan sikap terhadap guru.

Kuesioner untuk tujuan ketiga, mengungkapkan beberapa aspek yang berkenaan dengan luas bahasan, relevansi dan kegunaan materi/bahan pelajaran, cara menyajikan bahan/materi pelajaran, tingkat kesulitan bahan/materi pelajaran, cara guru mengajar, kesinambungan bahan pelajaran, sistem penilaian atau ujian, buku pelajaran, alat peraga, laboratorium atau praktikum, kegiatan ektrakurikuler, lama belajar dan kegiatan siswa.

Contoh kuesioner

Kuesioner untuk guru mata pelajaran kimia

Petunjuk pengisian kuesioner
1. melalui instrumen ini Anda diminta memberikan pandangan tentang tujuan, isi dan pendekatan pelaksanaan pembelajaran kimia kurikulum 2013 di SMA.
2. pendapat atau pandangan yang Anda berikan pada setiap butir yang terdapat dalam intrumen ini akan digunakan sebagai masukan untuk mengusulkan penyempurnaan kurikulum 2013.
3. Tugas Anda ialah memilih salah satu kemungkinan jawaban yang telah disediakan, yang menurut pendapat Anda paling tepat.
4. sebelum mengisi atau memberikan pandangan terhadap butir-butir yang terdapat dalam instrumen ini, Anda diminta mengisi identitas secara lengkap.

Identitas
a. Jenis kelamin : 1) pria         2) wanita
b. Pengalaman mengajar : 1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
c. Kelas yang Anda ajar sekarang  1) kelas 10   2) kelas 11  3) kelas 12
d. Pengalaman mengajar kelas 10 (jika pernah)   1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
e. Pengalaman mengajar kelas 11 (jika pernah)   1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
f. Pengalaman mengajar kelas 12 (jika pernah)   1) kurang dari 3 tahun  2) antara 3-5 tahun  3) lebih dari 5 tahun
g. Pengalaman mengikuti pelatihan dan pendidikan kurikulum 2013  1) pernah   2) belum pernah

Pertanyaan bagian I. Pandangan terhadap tujuan dan isi pembelajaran kimia
1. Menurut pendapat Anda tujuan umum pembelajaran kimia sebaiknya diarahkan pada
a. penguasaan materi pelajaran kimia
b. perubahan sikap siswa terhadap isu lingkungan dan masyarakat
c. membina pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang rasional dan tanggungjawab terhadap masalah yang timbul sebagai akibat dampak yang berkaitan dengan kimia.
2. .... dstnya

pertanyaan bagian II. Pandangan mengenai pendekatan pembelajaran kimia menurut kurikulum 2013
1. ... dstnya

Tanda tangan/paraf


..........................(tidak perlu diberi nama)

Thursday, May 4, 2017

Penialian Autentik: Jawaban Tertulis Lengkap

Jawaban tertulis lengkap memungkinkan para siswa memperlihatkan penguasaan mereka atas tujuan belajar sambil mempertajam keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi. Jawaban tertulis bisa diwujudkan dalam berbagai format diantaranya surat persuasi, buku pedoman pelatiahn teknis, brosur, studi kelayakan, esai penelitian dan esai singkat. Contoh berikut meminta siswa kelas empat sekola dasar dalam mata pelajaran IPA untuk menggali informasi dan memperlihatkan pengetahuan mereka mengenai masalah hutan.

Hutan kalimantan terkenal dengan kayu dan kualitasnya yang baik. Perusahaan penebang kayu menebang pohon-pohon yang kayunya dapat dijual atau dijadikan bahan baku pembangunan dan produk meubel. Hutan yang telah ditebang kemudian dijadikan lahan untuk menanam pohon sawit. Hutan adalah rumah bagi berbagi satwa seperti orang hutan, burung dan sebagainya. Masalah apa yang ditimbulkan oleh peruhaan penebang kayu, perusahaan sawit dan satwa yang memerlukan hutan sebagai rumahnya? Bagaimana Anda memecahkan masalah tersebut?

Penilaian autentik bentuk ini mengajak siswa untuk memberikan tanggapan atau jawaban tertulis secara lengkap.

Penilaian Autentik: Proyek

Kehidupan di luar sekolah ada banyak sekali proyek. Penilaian autentik proyek mengacu apa saja, termasuk memecahkan masalah, yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah hasil. Dalam keadaan biasa, kita mengerjakan suatu proyek karena proyek itu menarik minat kita, atau karena kita diminta melakukannya, atau mungkin karena ada sekelompok orang setuju bahwa sebuah proyek dibutuhkan demi kebaikan bersama. Sistem pembelajaran kontekstual sangat bergantung pada proyek sebagai cara untuk mencapai tujuan akademik sambil menyesuaikan perbedaan gaya belajar, minat dan bakat setiap siswa. Karena proyek menghubungkan muatan akademik dengan konteks dunia nyata, proyek membangkitkan antusiasme siswa untuk ikut berpartisipasi.

Menangani sebuah proyek secara sistematis membantu semua siswa untuk merasakan bahwa mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Anak-anak disekolah dasar dengan mudah menguasai langkah-langkah ABCD untuk menyelesaikan proyek apapun, besar ataupun kecil. Sistem kerja dengan urutan ABCD mengingatkan siswa bahwa untuk meyelesaikan sebuah proyek dengan sukses, maka sebaiknya siswa menjalankan kegiatan "Arrange" (menyusun), "Begin" (memulai), "Change" (mengubah), "Demonstrate" (mempertunjukkan). Setiap kata memiliki penjabaran tugas sendiri-sendiri.

Arrange: ketahui tujuan belajarmu, putuskan proyek yang akan dikerjakan, atur waktu sebaik-baiknya, siapkan persediaan dan atur waktu untuk bertemu dengan orang-orang penting.

Begin: mulai mengerjakan proyek

Change: sambil bekerja, lakukan perubahan yang akan memperkuat dan memperbaiki proyek

Demosnstarte: tunjukkan apa yang telah kamu capai.

Kadang-kadang guru dari pelajaran yang berbeda bekerja sama untuk merancang satu proyek untuk menilai sekelompok siswa yang mempertunjukkan seberapa baik mereka dalam mencapai berbagai tujuan belajar. Dalam hal proyek terpadu, guru dibidang pelajaran tertentu tentu saja bertanggungjawab untuk menentukan tujuan belajar dan mengembagkan pedoman penilaian untuk mata pelajaran mereka masing-masing. Ujian standar atau EBTANAS menuntut para siswa menunjukkan bahwa mereka telah menghafal fakta dan prosedur, penialian autentik mengajak para siswa untuk mencapai tujuan yang penting dengan menggunakan fakta dan prosedur yang telah mereka hafal. Tujuan yang penting jelas sekali terlihat dalam proyek-proyek penilaian autentik, yang sebagian besar proyek melibatkan lebih dari satu mata pelajaran.

Contoh-contoh tugas proyek
1) Guru bimbingan konseling disekolah memiliki banyak sekali beban kasus yang harus ditangani sehingga sulit bagi guru untuk mengetahui dan bertemu dengan siswa satu per satu. Selidiki mengapa hal seperti ini terjadi dan tulis sebuah laporan yang mengusulkan cara untuk meningkatkan hubungan antara siswa dengan guru di sekolah. Laporan tersebut harus ditunjukkan atau disampaikan kepada guru bimbingan konseling di sekolah.

2) Temukan sebuah masalah lingkungan yang mempengaruhi sekolah, lingkungan atau masyarakat di sekitarmu. Selidiki masalah ini. Siapkan sebuah presentasi dengan menggunakan alat peraga visual dan jelaskan tentang masalah itu kepada masyarakat dan sarankan tindakan yang dapat diambil.

3) Bank berusaha menarik pelanggan dengan menawarkan layanan khusus. Secara berkelompok aturlah jadwal dengan bank lokal untuk belajar tentang layanan khusus yang disediakan oleh bank untuk menarik pelanggan. Lalu selidiki efektivitas dari layanan tersebut dan kembangkan strategi pemasaran untuk bank. Sampaikan strategi tersebut kepada manajer bank.

4) Secara berkelompok teliti dan adakan presentasi umum mengenai langkah-langkah mengolah limbah rumah tangga, limbah industri dan limbah rumah sakit di sekitarmu. Gunakan video, grafik dan foto untuk menyampaikan hasil temuanmu.

5) Hujan asam menjadi masalah lingkungan yang menyebabkan korosi pada logam. Teliti dan selidiki masalah tersebut di lingkungan Anda. Laporkan hasil temuanmu dalam bentuk makalah atau jurnal.

Seperti yang ditunjukkan saran-saran di atas, proyek penilaian autentik didasarkan pada konteks dan mengangkat permasalahan dan persoalan aktual. Pertanyaan yang diajukan tidak hanya "fakta apa yang dapat Anda sampaikan sehubungan dengan permasalahan ini?", tetapi juga pertanyaan yang lebih membuka pikiran, "seberapa cermatkah penalaran Anda, seberapa bisakah Anda bekerja sama dan bertindak?" "Apa yang Anda ketahui dan apa yang dapat Anda lakukan?" Para siswa ini berusaha sekuat tenaga belajar sambil membantu orang lain. Para siswa yang melakukan tugas autentik memenuhi target waktu, menerima tanggung jawab, membuat keputusan, mengelola bahan dan waktu, mempraktikan pemikiran dalam tingkatan yang lebih tinggi dan menilai kualitas pekerjaan mereka sendiri. Hal-hal tersebut menjadikan pekerjaan mereka bermakna dan memotivasi mereka agar menjadi lebih unggul.

Penilaian Autentik: Kinerja / Pertunjukan / Performance

Sama seperti bentuk penilaian portofolio dan proyek, pertunjukan juga bisa dipakai sebagai alat ajar sekaligus alat penilaian kinerja siswa. Dalam penilaian autentik pertunjukan, siswa mempertontonkan atau menampilkan di hadapan khalayak atau masyarakat luas bahwa mereka telah menguasai tujuan belajar tertentu. Seorang siswa dengan bakat musik menonjol bisa memperlihatkan pengetahuannya tentang bakatnya dengan menggubah dan memainkan musik untuk mengiringi sebuah adegan atau babak dalam drama. Kelompok siswa lain mungkin menunjukan bakat memasak, bagaimana meramu dan menyajikan sebuah resep masakan yang disajikan dalam rumah makan atau restoran. Kelompok siswa lain mungkin menulis dan memainkan sebuah drama. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyertai setiap pertunjukan dengan narasi, tertulis atau lisan, yang menjelaskan hubungan pertunjukan tersebut dengan materi yang sedang dipelajari. Narasi tersbut menjelaskan mengapa pertunjukkan tersebut berisi fitur-fitur tertentu dan detail mana yang paling cocok.

Para penonton sering kali membantu memberikan penilaian. Mereka dibantu oleh para guru untuk memahami dan menerapkan hasil penilaian tersebut.

Tugas pertunjukan untuk menilai bahwa siswa telah
1) Meguasai informasi, konsep, dan keterampilan tertentu yang terdapat dalam tujuan belajar.
2) Memahami dan memenuhi kriteria yang dipersyaratkan untuk mengadakan pertunjukan. Contohnya model teater zaman kayu atau zaman batu, gubahan musik, melukis, yang masing-masing memiliki kriteria sendiri.
3) Memperlihatkan minat dan bakat individu.
4) Berkomunikasi dengan efektif dengan para penonton
5) Memberikan narasi yang seimbang dan/atau melakukan diskusi tentang gagasan di balik tugas pertunjukan terakhir mereka.

Tugas yang diberikan untuk melakukan penilaian autentik kinerja / pertunjukan / performance siswa.

Penilaian Autentik: Portofolio

Penilaian autentik paling terkenal adalah portofolio. Sebagai bagian intrinsik dari prestasi harian kelas yang dilakukan terus menerus, portofolio timbul dari konteks kehidupan sehari-hari. Saat melakukan berbagai jenis tugas para siswa menilai dan mengumpulkan tugas dan selama itu mereka melihat diri mereka sebagai seorang yang kreatif dan memiliki kemampuan.  Siswa memperoleh kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab dengan mengunpulkan dan menilai pekerjaan mereka sendiri.

Sama seperti jenis penilaian autentik yang lain, tujuan penilaian harus jelas. Dalam portofolio siswa mengevaluasi pekerjaan mereka dengan mengacu pada tujuan yang sudah ditetapkan, menilai kemajuan, dan menetapkan target-target pribadi. Selama pembuatan portofolio, siswa tidak hanya menunjukkan materi tersebut yang telah mereka pelajari, tetapi juga materi apa yang mereka senangi, bagaimana pendapat mereka, dan bagaimana menilai kemampuan mereka. Portofolio sama uniknya dengan siswa yang membuatnya. Karena portofolio memberi siswa pilihan, membiarkan mereka menggunakan gaya belajar mereka sendiri, dan memberikan kesempatan untuk maju, portofolio mendorong dan dan memotivasi semangat belajar.

Umumnya portofolio dinilai oleh guru bersama-sama pihak lain di sekolah atau masyarakat luas. Para orang tua memperoleh wawasan dengan menggunakan pedoman penilaian untuk mengevaluasi portofolio yang telah dibuatoleh siswa.

Baik pilihan siswa maupun sifat proyek mempengaruhi karakter unik atau ciri khas portofolio sebagai bentuk penilaian autentik. Misalnya, seorang siswa SMA mungkin memilih untuk mengungkapkan tujuan akademik dan tujuan yang berhubungan dengan karier yang didapatnya selama dirinya menjabat sebagai bendahara kelas atau bendahara organisasi atau bendahara kegiatan atau bendahara sekolah dengan cara mencantumkan pada portofolionya contoh-contoh tugas yang menjadikan kemampuannya dalam pelajaran matematika semakin tajam. Siswa bisa menjelaskan dalam buku catatannya pengalaman-pengalaman yang menjadikan keterampilan interpersonalnya semakin meroket. Siswa tersebut bisa melampirkan sebuah tulisan mengenai bank sebagai kegiatan sistematis atau menyertakan sebuah makalah penelitian yang mendiskusikan tentang cara kerja perusahaan perbankan. Dengan cara itu, portofolio mengaitkan pembelajaran dengan apa yang dilakukan orang dalam dunia nyata dan akibatnya menumbuhkan prestasi akademik yang tinggi.

Penilaian Autentik

Penilaian autentik memberikan tantangan kepada siswa untuk menerapkan informasi dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan tertentu. Penilaian autentik adalah teknik bagi sekolah yang ingin maju yang tahu dengan jelas apa yang diharapkan dari siswa dan tahu dengan jelas bagaimana mereka dapat menunjukkan kualitas tersebut. Penilaian autentik memberikan kesempatan keapda siswa untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka pelajari.

Sebagai bagian kecil dari sebuah sistem pembelajaran kontekstual, penialaian autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun keterkaitan dan kerjasama, dan menanamkan tingkat berpikir yang lebih tinggi. Karena tugas-tugas yang diberikan dalam penilaian autentik mengharuskan penggunaan startegi-strategi tersebut, maka para siswa bisa menunjukkan penguasaannya terhadap tujuan pelajaran dan kedalaman pemahamannya dan pada saat yang bersamaan meningkatkan pengetahuan dan cara untuk memperbaiki diri.

Penilaian autentik mengajak para siswa untuk menggunakan pengetahuan akademik dalam konteks dunia nyata untuk tujuan bermakna. Sebagai contoh, siswa menjelaskan informasi akademik yang telah mereka pelajari dalam semua bidang ilmu yang diajarkan di sekolah. Ketika melakukan tugas dalam penilaian autentik tersebut, siswa menghadapi tantangan-tantangan yang lazim menyertai setiap usaha untuk mencapai hasil yang berarti dalam konteks pekerjaan atau masyarakat.

Kekuatan atau keuntungan penilaian autentik bagi siswa
Penilaian autentik meningkatkan pembelajaran dalam banyak hal. Ujian standar (seperti EBTANAS) bersifat eksklusif dan sempit, sementara penilaian autentik yang bersifat inklusif memberi keuntungan bagi siswa dengan memungkinkan siswa:
1) mengungkapkan secara total seberapa baik pemahaman materi akademik mereka
2) mengungkapkan dan memperkuat penguasaan kompetensi mereka seperti mengumpulkan informasi, menggunakan sumber daya, menguasai teknologi, dan berpikir secara sistematis.
3) menghubungkan pembelajaran dengan dengan pengalaman mereka sendiri, lingkungan mereka dan masyarakat luas.
4) Mempertajam keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi saat mereka menganalisis, memadukan, mengidentifikasi masalah menciptakan solusi dan mengikuti hubungan sebab akibat.
5) Menerima tanggung jawab dan membuat pilihan
6) Berhubungan dan bekerja sama dengan orang lain dalam mengerjakan tugas
7) Belajar mengevaluasi tingkat prestasi mereka sendiri.

Empat jenis penilaian autentik
Pada umumnya para pendidik telah mengenal empat jenis penilaian autentik, yaitu:
1) Portofolio
2) Penilaian kinerja / pengukuran kinerja / pertunjukan (performance)
3) Proyek
4) Jawaban tertulis secara lengkap

Prosedur untuk merancang soal penilaian autentik
Dalam membuat soal untuk penilaian autentik, apapun kategori yang dipakai, para guru yang menerapkan pembelajaran kontekstual perlu memperhatikan prosedur berikut:
1) Jelaskan dengan tepat apa yang harus diketahui dan bisa dikerjakan oleh siswa. Beri tahukan kepada mereka standar yang harus dicapai atau kriteria yang harus dipenuhi.
2) Hubungkan pelajaran akademik dengan konteks dunia nyata dengan cara yang penuh makna.
3) Tugaskan para siswa untuk menunjukkan apa yang bisa mereka lakukan dengan apa yang mereka ketahui, untuk memperlihatkan keterampilan dan kedalaman pengetahuan mereka dengan memproduksi hasil (contoh produk nyata, presentasi, koleksi hasil tugas.
4) Putuskan tingkat penguasaan yang harus dicapai.
5) Tampilkan tingkat penguasaan tersebut dalam sebuah rubrik, yaitu dalam bentuk pedoman penilaian yang dilengkapi dengan kriteria yang digunakan untuk menilai.
6) Biasakan para siswa dengan rubrik tersebut. Ajak siswa untuk terus menerus melakukan penilaian diri saat mereka menilai kerja mereka sendiri.
7) Libatkan sekelompok orang selain guru untuk menanggapi penilaian ini.

Apapun bentuk penilaian autentik yang dipakai, membuat portofolio, mengembangkan proyek, menampilkan sebuah pertunjukan atau menyiapkan pertanyaan yang dijawab secara lengkap, para siswa harus mampu mempertunjukkan secara lengkap lingkup pembelajaran mereka dan pada saat yang bersamaan menambah pengetahuan dan keterampilan mereka. Selain itu, penilaian autentik menjadikan siswa berminat dengan menghubungkan mata pelajaran kademik dengan dunia nyata dengan cara yang bermakna. Siswa tidak menghafalkan fakta, tetapi menggunakan keahlian berpikir dalam tingkatan yang lebih tinggi untuk tujuan penting yang mempengaruhi konteks kehidupan mereka sehari-hari.

Baca:
1) Portofolio
2) Penilaian kinerja / pengukuran kinerja / pertunjukan (performance)
3) Proyek
4) Jawaban tertulis secara lengkap

Thursday, April 27, 2017

Teknik penilaian: wawancara dan contoh pedoman wawancara

Wawancara
Sebagai salah satu teknik penilaian, wawancara dapat digunakan untuk menilai hasil dan proses belajar mengajar. Kekuatan wawancara adalah kontak langsung dengan siswa sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara bebas dan mendalam. Hubungan emosional juga dapat dibina lebih baik dengan siswa yaitu hubungan orang tua dan anak, dan guru juga dapat mejadi teman atau sahabat bagi siswa, sehingga siswa dapat lebih bebas mengungkapkan pendapatnya. Wawancara dapat direkam sehingga jawaban siswa dapat ditranskrip secara lengkap. Melalui wawancara data dapat diperoleh secara kualitatif dan kuantitatif. Pertanyaan yang kurang jelas dapat diulang atau dijelaskan lagi. Sebaliknya jawaban yang belum jelas dapat diulang atau diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna.

Ada dua jenis wawancara yaitu wawancara berstruktur dan wawancara bebas. Dalam wawancara berstruktur kemungkinan jawaban telah disiapkan sehingga siswa tinggal mengkategorikan kepada alternatif jawaban yang telah dibuat. Jenis ini lebih mudah diolah dan dinalisis untuk dibuat kesimpulannya. Pada wawancara bebas, jawaban tidak perlu disiapkan sehingga siswa bebas mengungkapkan pendapatnya.

Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan wawancara yaitu:
1) tahap awal pelaksanaan wawancara
2) penggunaan pertanyaan
3) pencatatan hasil wawancara

Tahap awal wawancara bertujuan mengkondisikan situasi wawancara. Buatlah situasi yang mengungkapkan suasana keakraban sehingga siswa tidak merasa takut dan siswa terdorong untuk mengemukakan pendapatnya secara bebas dan benar atau jujur.

Setelah kondisi awal cukup baik, barulah diajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan tujuan wawancara, Pertanyaan diajukan secara bertahap dan sistematis berdasarkan rambu-rambu atau kisi-kisi yang telah dibuat atau disusun sebelumnya. Apabila pertanyaan dibuat secara berstruktur pewancara membacakan pertanyaan dan kalau perlu alternatif jawabannya. Siswa diminta mengungkapkan pendapatnya, lalu pendapat siswa diklasifikasikan ke dalam alternatif jawaban yang telah ada. Bila wawancara tidak berstruktur, baca atau ajukan pertanyaan lalu siswa diminta menjawabnya secara bebas.

Tahap akhir adalah mencatat hasil wawancara. Hasil wawancara sebaiknya dicatat saat itu juga supaya tidak lupa. Mencatat hasil wawancara berstruktur cukup mudah sebab cukup memberikan tanda pada alternatif jawaban misalnya melingkari salah satu jawaban yang ada.

Sedangkan pada wawancara bebas kita perlu mencatat pokok-pokok isi jawaban siswa pada lembaran tersendiri. Yang dicatat adalah jawaban apa adanya dari siswa, jangan tafsiran pewancara ditambah atau dikurangi.

Mempersiapkan wawancara
Sebelum melaksanakan wawancara perlu dirancang pedoman wawancara. Pedoman ini disusun dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut
1) Tentukan tujuan yang ingin dicapai dari wawancara. Misalnya untuk mengetahui pemahaman siswa (hasil belajar) atau mengetahui pendapat siswa mengenai kemampuan mengajar yang dilakukan guru.
2) Berdasarkan tujuan tentukan aspek-aspek yang akan diungkap melalui wawancara tersebut. Aspek-aspek tersebut dijadikan dasar dalam menyusun pertanyaan wawancara. Aspek yang diungkap diurutkan secara sistematis.
3) Tentukan bentuk pertanyaan yang akan digunakan yaitu bentuk berstruktur atau bentuk terbuka. Bisa saja kombinasi dari kedua bentuk tersebut. Misal untuk beberapa aspek dibuat bentuk berstruktur dan untuk beberapa aspek bentuk bebas.
4) Buatlah pertanyaan wawancara sesuai dengan analisis pada butir (c), yaitu membuat pertanyaan berstruktur dan atau yang bebas. Pertanyaan jangan terlalu banyak, fokuskan pada pokok permasalahan.
5) Ada baiknya apabila dibuat pula pedoman mengolah dan menafsirkan hasil waancara, baik pedoman wawancara brstruktur ataupun pedoman wawancara bebas.

Contoh pedoman wawancara

Tujuan              : untuk mengetahui cara belajar kimia yang dilakukan siswa dirumah
Bentuk              : wawancara bebas
Responden        : Siswa yang memiliki prestasi belajar tinggi.

Nama Siwa        :
Kelas/semester   :
Jenis Kelamin    :

Pertanyaan Wawancara                                                             Jawaban Responden
1. Kapan dan Berapa lama Anda belajar
kimia di rumah?
2. Bagaimana Anda mempersiapkan diri untuk
belajar kimia secara efektif?
3. Kegiatan apa yang Anda lakukan pada waktu
mempelajari materi kimia?
4. Seandainya Anda mengalami kesulitan dalam
mempelajari kimia, usaha apa yang Anda lakukan
untuk mengatasi kesulitan tersebut?
5. Bagaimana cara Anda untuk mengetahui
tingkat penguasaan belajar yang telah Anda capai?


Demikianlah Teknik penilaian wawancara dan contoh pedoman wawancara.

Wednesday, April 26, 2017

Pemeriksaan dan penskoran tes objektif

Pemeriksaan dan penskoran tes objektif
Pemeriksaan tes objektif lebih mudah daripada tes uraian dapat dikerjakan lebih cepat. Dengan menggunakan kunci jawaban yang telah dibuat jumlah jawaban benar dan salah bisa dengan cepat dihitung.

Penskoran untuk jawaban soal pilihan ganda menggunakan aturan sebagai berikut:

Sk = B - S/(O-1)

Sk adalah skor yang diperoleh
B adalah jumlah jawaban benar
S adalah jumlah jawaban salah
O adalah jumlah option atau pilihan

Penskoran untuk jenis soal benar salah adalah

Sk = B - S

Penskoran untuk jenis soal menjodohkan adalah

Sk = B

Demikianlah Pemeriksaan dan penskoran tes objektif.

Teknik tes objektif

1, Bentuk soal jawaban singkat
Bentuk soal jawaban singkat merupakan soal yang menghendaki jawaban dalam bentuk kata, bilangan, kalimat singkat, simbol atau jawaban yang hanya dapat dinilai benar dan salah. Ada dua bentuk yaitu bentuk pertanyaan langsung dan bentuk pertanyaan tidak lengkap.

2. Bentuk soal benar salah
Bentuk soal benar salah adalah bentuk soal berupa pernyataan. Sebagian dari pernyataan itu merupakan pernyataan yang benar dan sebagian lagi merupakan pernyataan yang salah. Pada umumnya bentuk soal benar salah dapat dipakai untuk mengukur pengetahuan siswa tentang fakta, definisi dan prinsip.

3. Bentuk soal menjodohkan
Bentuk soal menjodohkan terdiri atas dua kelompok pernyataan yang paralel. Kedua kelom[ok pernyataan ini berada dalam suatu kesatuan. Kelompok sebelah kiri merupakan bagian yang berisi soal-soal yang dicari jawabannya. Dalam bentuk sederhana jumlah soal sama dengan jumlah jawabannya.

4. Bentuk soal pilihan ganda
Soal pilihan ganda adalah bentuk tes yang mempunyai satu jawaban yang benar dan paling tepat. Dilihat dari strukturnya bentuk soal pilihan ganda terdiri atas:
a) stem : pertanyaan atau pernyataan yang berisi permasalahan yang akan ditanyakan
b) option : sejunlah pilihan atau alternatif jawaban
c) key : kunci jawaban yang benar atau paling tepat
d) distractor : jawaban-jawaban lain selain kunci atau pengecoh

Demikianlah setidaknya ada 4 bentuk Teknik tes objektif

Pemeriksaan, penskoran dan penilaian tes uraian

Memeriksa jawaban soal-soal uraian tidak semudah memeriksa jawaban soal objektif sekalipu telah ada kunci jawabannya. Setiap jawaban soal uraian harus dibaca seluruhnya sebelum diberi skor sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
Ada dua cara pemeriksaan jawaban soal uraian. Cara pertama adalah diperiksa seorang demi seorang untuk semua soal, kemudian diberi skor. Cara kedua adalah diperiksa nomor demi nomor untuk setiap siswa, kemudiann diberi skor. Cara kedua akan memakan waktu lebih lama, tetapi lebih objektif dari pada cara pertama.
Tetapkan skala untuk penskoran. biasanya skal 1-4 atau 1-10, dapat juga digunakan skala 1-100. Berikan bobot untuk setiap soal, misal soal mudah bobot 2, soal sedang bobot 3-4, soal sulit bobonya 5.

Misal
Nomor Soal      Skor yang diperoleh           Bobot Nilai                        Total Nilai
1                                 4                                2                                       8
2                                 3                                3                                       9
3                                 3                                4                                       12
4                                 3                                5                                       15
Jumlah                        13                                                                        44

Rata-rata sebelum dibobot adalah 13/4 = 3,25
Rata-rata setelah dibobot adalah adalah 44/13 = 3,3


Dalam menilai kebenaran jawaban soal-soal bentuk uraian perlu dipertimbangkan
1) kebenaran isi sesuai dengan kaidah materi yang ditanyakan
2) sistematika atau urutan logis dari kerangka berpikirnya yang dilihat dari penyajian gagasan jawaban,
3) bahasa yang digunakan dalam mengekspesikan buah pikirannya.

Sistem penilaian yang digunakan untuk soal-soal uraian pada dasarnya sama dengan bentuk yang lain, yaitu dapat menggunakan acuan norma atau acuan patokan. Pada tahap awal untuk memacu motivasi siswa dapat digunakan acuan norma, kemudian untuk evaluasi tengah dan akhir gunakan acuan patokan.

Setelah mengkaji hakikan dari soal bentuk uraian maka tes ini sangat baik untuk semua jenjang pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi. Kemampuan yang diungkapkan melaui tes uraian tidak hanya kemampuan berpikir logis tetapi juga kemampuan berbahasa. Dimensi-dimensi tes uraian lebih luas dan bisa mencakup semua aspek kognitif secara seimbang disamping membisakan siswa belajar penuh pemahaman dan mempersiapkan diri secara matang manakala menghadapi ulangan dan ujian-ujian yang diberikan di sekolah. Demikianlah Pemeriksaan, penskoran dan penilaian tes uraian.

Cara menyusun soal tes bentuk uraian

Cara menyusun soal-soal tes uraian dilakukan dengan cara memperhatikan hal-hal berikut:
1) segi yang diukur
segi yang hendak diukur hendaknya ditentukan secara jelas kemampuan atau kompetensinya, misalnya pemahaman konsep, aplikasi suatu konsep, analisis suatu permasalahan, sintesis dan evaluasi teori. Dengan kejelasan apa yang akan diungkapkan maka soal atau pertanyaan yang dibuat hendaknya mengungkapkan kemampuan siswa dalam kompetensi tersebut.
Setelah kompetensi yang hendak diukur cukup jelas, tetapkan materi yang hendak ditanyakan. Dalam meilih materi sesuai dengan kurikulumnya atau silabusnya, pilihlah materi yang esensial atau materi inti atau materi pokok sehingga tidak semua materi perlu ditanyakan. Materi inti atau materi pokok adalah materi yang menjadi inti persoalan dan menjadi dasar untuk penguasaan kompetensi lainnya. Dengan perkataan lain, bila konsep esensial dikuasai, maka secara keseluruhan siswa akan mengetahui aspek-aspek yang berkenaan dengan konsep tersebut. Aturlah penyajian pertanyaan secara berurutan mulai dari yang mudah menuju kepada yang lebih sulit, atau dari yang sederhana menuju ke yang lebih kompleks. Gunukan bentuk uraian terbatas atau berstruktur.

2) segi bahasa
Gunakan bahasa yang baik dan benar atau kaidah bahasa yang telah baku sehingga mudah diketahui makna yang terkandung dalam rumusan pertanyaan. Bahasanya sederhana, singkat tetapi jelas apa yang ditanyakan. Hindari bahasa yang berbelit-belit, membingungkan atau mengecoh siswa.

3) segi teknis penyajian
Hendaknya jangan mengulang-ulang pertanyaan terhadap materi atau konsep yang sama sekalipun untuk kemampuan atau kompetensi yang berbeda sehingga soal atau pertanyaan yang diajukan lebih komprehensif dari segi lingkup materinya. Perhatikan waktu yang tersedia untuk mengerjakan soal tersebut sehingga soal tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Bobot penilaian untuk setiap soal hendaknya dibedakan menurut tingkat kesulitan soal. Soal-soal yang lebih sulit diberi bobot yang lebih besar. Tingkat kesulitan soal dilihat dari sifat materinya dan kompetensi yang diukurnya. Kemampuan analisis lebih sulit daripada aplikasi dan pemahaman, demikian juga sintesis lebih sulit dari analisis. Sedangkan konsep lebih sulit dari pada fakta.

4) segi jawaban
Setiap pertanyaan yang hendak diajukan sebaiknya telah ditentukan jawaban yang diharapkan, minimal pokoknya. Tentukan pula besarnya skor maksimal untuk setiap soal yang dijawab benar dan skor minimal bila jawaban dianggap salah atau kurang memadai. Jangan sekali-kali mengajukan pertanyaan yang jawabannya belum pasti atau guru sendiri tidak tahu jawabannya, atau mengharapak kebenaran jawaban tersebut diperoleh dari siswa.

Dalam pelaksanaannya hendaknya perhatikan:
1) Waktu yang cukup untuk mengerjakan soal-soal tes.
2) Kemungkinan bagi siswa untuk mengerjakan soal-soal mudah terlebih dahulu tanpa harus mengikuti urutan nomor soal.
3) Pastikan siswa mengerjakan soal-soal sendiri, bukan denga bantuan orang lain.
4) Jika dipandang perlu berikan soal-soal uraian yang memperbolehkan siswa mengkaji pustaka atau membuka buku.
5. Sediakan waktu jika mungkin untuk membahas soal setelah siswa selesai mengerjakannya.

Penilaian Hasil Belajar Tes Uraian

Tes Uraian
Tes uraian disebut juga essay examination merupakan teknik penilaian hasil belajar yang sudah sangat tua. Pada umumnya tes uraian disusun dalam bentuk instrumen pertanyaan yang menuntut siswa menjawab dalam bentuk menguraikan, menjelaskan, mendiskusikan, membandingkan, memberikan alasan, dan bentuk lainnya yang menuntut jawaban dalam bentuk uraian dengan kata-kata sendiri. Dengan demikian, tes uraian menuntut kemampuan siswa dalam hal mengekspresikan gagasan melalui bahasa dan tulisan. Dalam hal inilah kekuatan dan kelebihan tes uraian.

Tes uraian dapat mengungkapakan aspek kognitif tinggi atau melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, sintesis dan evaluasi baik secara lisan maupun tulisan. Siswa juga dibiasakan dengan kemampuan memecahkan masalah (problem solving), mencoba merumuskan hipotesis, menyusun dan mendeskripsikan gagasannya, dan menarik kesimpulan dari pemecahan masalah.

Kelebihan atau kekuatan dari tes uraian adalah:
a) dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat tinggi,
b) dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan, dengan baik dan benar sesuai kaidah-kaidah bahasa yang baku,
c) dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalaran, yaitu berpikir logis, analitis dan sistematis,
d) mengembangkan keterampilan memecahkan masalah (problem solving)
e) adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tidak memakan waktu yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berpikiri siswa.

Jenis-jenis tes uraian
a) uraian bebas
Pada jenis ini bentuk pertanyaan tidak memberikan rambu jawaban sehingga siswa bebas mengemukakan pendapatnya. Bentuk uraian bebas ini tepat digunakan apabila bertujuan:
1) mengungkapakan pandangan para siswa terhadap suatu masalah sehingga dapat diketahui luas dan intensitasnya,
2) mengupas suatu persoalan yang kemungkinan jawabannya beraneka ragam sehingga tidak ada satu pun jawaban yang pasti,
3) mengembangkan daya analisis siswa dalam melihat suatu persoalan dari berbagai segi atau sudut pandang atau dimensi.
Bentuk tes uraian bebas sukar menilainya karena jawaban siswa bervariasi, sulit menentukan kriteria penilaian, sangat subjektif karena tergantung pada guru atau dosen yang menilainya. Jenis ini kurang cocok untuk evaluasi, tetapi lebih cocok untuk mengetahui apa yang siswa telah ketahui sebelum memulai suatu materi pelajaran tertentu.

Contoh soal: Jelaskan pengertian belajar!

b) uraian terbatas
Bentuk uraian terbatas, pertanyaan-pertanyaan telah diarahkan pada hal-hal tertentu atau pada pembatasan tertentu. Pembatasan dari segi ruang lingkupnya, sudut pandang menjawabnya, indikator-indikatornya. Dengan adanya pembatasan, jawaban siswa akan lebih terarah sesuai dengan harapan. Cara memberikan penilaian juga lebih jelas indikatornya. Kriteria kebenaran jawaban bisa lebih mudah ditentukan. Oleh karena itu, bentuk soal uraian terbatas lebih terarah dan memerlukan ketapatan jawaban.

contoh soal: Jelaskan pengertian belajar menurut Gagne dan menurut Bloom!

c) uraian berstruktur
Soal-soal berstruktur dipandang sebagai bentuk antara soal objektif dan soal uraian. Soal berstruktur merupakan serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan bebas menjawabnya. Soal-soal berstruktur berisi unsur-unsur
1) pengantar soal
2) seperangkat data,
3) serangkaian subsoal
Kelebihan atau kekuatan soal bentuk berstruktur antara lain adalah:
1) satu soal bisa terdiri atas beberapa subsoal atau pertanyaan
2) setiap pertanyaan yang diajukan mengacu pada suatu data tertentu sehingga lebih jelas dan terarah
3) soal-soal berkaitan satu sama lain dan bisa diurutkan berdasarkan tingkat kesukarannya.
Data yang diberikan dalam soal berstruktur bisa dalam bentuk angka, tabel, grafik, gambar, bagan, kasus, bacaan, diagran, atau model.
Bentu soal berstruktur dapat digunakan untuyk mengukur semua aspek kognitif ingatan, pemahaman, aplikasi, anlisis, sintesis dan evaluasi. Dengan demikian bentuk ini dapat mengungkapkan banyak aspek yang dinginkan. Tingkat kesulitan soal dapat dibuat sedemikian rupa sehingga berurutan dari soal yang mudah menuju soal yang sukar. Satu permasalahan yang akan diungkapkan dapat dikaji dari banyak aspek melalui subsoal atau pertanyaan yang diajukan pada tema persoalan/masalah.

Penilaian Hasil Belajar dengan Tes Uraian sangat cocok bagi siswa SMA dan mahasiswa perguruan tinggi.

Monday, April 24, 2017

Kriteria dalam menilai proses belajar mengajar

Kriteria yang digunakan dalam menilai proses belajar mengajar meliputi antara lain:
1) konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum
Kurikulum adalah program belajar mengajar yang telah ditentukan sebagai acuan apa yang seharusnya dilaksanakan. Keberhasilan proses belajar mengajar dilihat sejauh mana acuan tersebut dilaksanakan secara nyata dalam bentuk aspek-aspek:
a) tujuan-tujuan pengajaran
b) bahan pengajaran yang diberikan
c) jenis kegiatan yang dilaksanakan
d) cara melaksanakan setiap jenis kegiatan
e) peralatan yang digunakan untuk masing-masing kegiatan
f) penilaian yang digunakan untuk setiap tujuan

2) keterlaksanaan oleh guru
Dalam hal ini sejauh mana kegiatan dan program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Dengan demikian apa yang direncanakan dapat diwujudkan sebagaimana seharusnya. Keterlaksanaan ini dapat dapat dilihat dalam hal:
a) mengkondisikan kegiatan belajar siswa
b) menyiapkan alat, sumber dan perlengkapan belajar
c) waktu yang disediakan untuk kegiatan belajar mengajar
d) memberikan bantuan dan bimbingan belajar kepada siswa
e) melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar siswa
f) menggeneralisasikan hasil belajar mengajar saat itu dan tindak lanjut untuk kegiatan belajar mengajar berikutnya.

3) keterlaksanaan oleh siswa
Dalam hal ini dinilai sejauh mana siswa melakukan kegiatan belajar sesuai dengan program yang telah ditentukan guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti. Keterlaksanaan oleh siswa dapat dilihat dalam hal
a) memahami dan mengikuti petunjuk yang diberikan guru
b) semua siswa turut serta melakukan kegiatan belajar
c) tugas-tugas belajar dapat diselesaikan sebagaimana mestinya
d) memanfaatkan semua sumber belajar yang disediakan guru
e) menguasai tujuan-tujuan pengajaran yang telah ditetapkan guru

4) motivasi belajar siswa
Keberhasilan proses belajar mengajar dapat dilihat dalam motivasi belajar yang ditunjukan oleh para siswa pada saat melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat dilihat dari:
a) minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran
b) semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya
c) tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugas belajarnya
d) reaksi yang ditunjukan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru
e) rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan

5) keaktifan para siswa dalam kegiatan belajar
Penilaian proses belajar mengajar terutama adalah melihat sejauh mana keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal:
a) turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya
b) terlibat dalam pemecahan masalah
c) bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi
d) berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah
e) melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru
f) menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya
g) melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis
h) kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.

6) interaksi guru-siswa
Interaksi guru siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubungan timbal balik atau hubungan dua arah antara siswa dan guru atau siswa dengan siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat dilihat dari:
a) tanya jawab atau dialog antara guru dengan siswa atau siswa dengan siswa
b) bantuan guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan belajar baik secara individual maupun secara kelompok
c) guru dan siswa dapat menjadi sumber belajar bagi siswa lainnya
d) guru senantiasa berada dalam kegiatan belajar mengajar sebagai fasilitator belajar
e) tampilnya guru sebagai pemberi jalan keluar manakala siswa menghadapi jalan buntu dalam tugas belajarnya.

7) kemampuan atau keterampilan guru mengajar
Keterampilan atau kemampuan guru mengajar merupakan puncak keahlian guru yang profesional karena merupakan penerapan semua kemampuan yang telah dimilikinya dalam hal bahan pengajaran, komunikasi dengan siswa, metode mengajar, dll. Beberapa indikator dalam menilai kemampuan guru mengajar antara laian:
a) menguasai bahan pengajaran yang disampaikan kepada siswa
b) terampil berkomunikasi dengan siswa
c) menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan siswa
d) terampil menggunakan berbagai alat dan sumber belajar
e) terampil mengajukan pertanyaan baik lisan maupun tulisan

8) Kualitas hasil belajar yang dicapai oleh siswa
Salah satu keberhasilam proses belajar mengajar dilihat dari hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dalam hal ini aspek yang dilihat antara lain:
a) perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa setelah menyelesaikan penngalaman belajarnya
b) kualitas dan kunatitas penguasaan tujuan instruksional oleh para siswa
c) jumlah siswa yang dapat mencapai tujuan instruksional minimum dari jumlah yag harus dicapai.
d) Hasil belajar tahan lama diingat dan dapat digunakan sebagai dasar dalam mempelajari bahan berikutnya.

Tujuan dan Dimensi Penilaian Proses Belajar Mengajar

Penilaian terhadap proses belajar mengajar bertujuan sedikit berbeda dengan tujuan penilaian hasil belajar. Penialaian hasil belajar lebih ditekankan pada penguasaan tujuan pengajaran atau tujuan instruksional oleh para siswa. Penilaian proses belajar mengajar lebih ditekankan pada perbaikan dan pengoptimalan kegiatan belajar mengajar terutama efesiensi, efektivitas dan produktivitas.
1) efisiensi dan keefektifan pencapaian tujuan instruksional
2) keefektifan dan relevansi bahan pengajaran
3) produktivitas kegiatan belajar mengajar
4) keefektifan sumber dan sarana pengajaran
5) keefektifan penilaian hasil dan proses belajar

Sejalan dengan tujuan tersebut, dimnesi penilaian proses belajar mengajar berkenaan dengan komponen-komponen yang membentuk proses belajar mengajar dan keterkaitan atau hubungan antara komponen-komponen tersebut. Komponen pengajaran sebagai dimensi penilaian proses belajar mengajar mencakup:

1) tujuan pengajaran atau tujuan instruksional
Meliputi aspek-aspek ruang lingkup tujuan, kompetensi yang terkandung dalamnya, rumusan tujuan, tingkat kesulitan pencapaian tujuan, kesesuaian dengan kemampuan siswa, jumlah dan waktu yang tersedia untuk mencapainya, kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku, dan keterlaksanaannya dalam pengajaran.

2) bahan pengajaran
Meliputi ruang lingkupnya, kesesuaian dengan tujuan, tingkat kesulitan bahan, kemudahan memperoleh dan mempelajarinya, daya gunanya bagi siswa, keterlaksanaan sesuai dengan waktu yang tersedia, sumber-sumber untuk mempelajarinya, cara mempelajarinya, kesinambungan bahan pengajaran, relevansi bahan dengan kebutuhan siswa, prasyarat mempelajarinya.

3) kondisi siswa dan kegiatan/perbuatan belajarnya
Meliputi kemampuan prasyarat, minat dan perhatian, motivasi, sikap, cara belajar, kebiasaan belajar, kesulitan belajar, fasilitas belajar yang dimiliki, hubungan sosial dengan teman sekelas, masalah belajar yang dihadapi, karakteristik dan kepribadian, kebutuhan belajar, identitas siswa dan keluarganya yang erat kaitannya dengan pendidikan doi sekolah.

4) kondisi guru dan kegitan/perbuatan mengajarnya
Meliputi penguasaan materi pelajaran, keterampilan mengajar, sikap keguruan, pengalaman mengajar, cara mengajar, cara menilai, kemauan mengembangkan profesinya, keterampilan berkomunikasi, kepribadian, kemauan dan kemampuan memberikan bantuan dan bimbingan kepada siswa, hubungan dengan siswa dan dengan rekan sejawat, penampilan diri, keterampilan yang dimiliki.

5) alat dan sumber belajar yang digunakan
Meliputi jenis alat dan jumlahnya, daya guna, kemudahan pengadaanya, kelengkapannya, manfaatnya bagi siswa dan guru, cara menggunakannya. Termasuk alat peraga, buku sumber, laboratorium dan perlengkapan belajar lainnya.

6) teknik dan cara penilaian
Meliputi jenis alat penilaian yang digunakan, isi dan rumusan pertanyaan, pemeriksaan dan interpretasinya, sistem penilaian yang digunakan, pelaksanaan penilaian, tindak lanjut hasil penilaian, pemanfaatan hasil penilaian, administrasi penilaian, tingkat kesulitan soal, validitas dan reliabilitas soal penilaian, daya pembeda, frekuensi penilaian, dan perencanaan penilaian.

Sunday, April 23, 2017

Validitas dan reliabilitas alat/instrumen penilaian

Alat penilaian yang dikatakan memiliki kualitas baik apabila memenuhi dua kriteria yaitu ketapatannya atau validitasnya dan keajegan atau reliablitasnya.

a. Validitas
Definis validitas adalah ketepatan alat penilaian mengukur apa yang seharusnya diukur. Validitas bertalian dengan ketepatan alat penialaian mengukur konsep yang dinilai sehingga betul-betul menilai apa yang seharusnya dinilai. Ada empat jenis validitas yang sering digunakan yaitu, validitas isi, validitas bangun pengertian, validitas prediksi, dan validitas kesamaan.

1) validitas isi
Validitas isi bertalian dengan kemampuan alat penilaian dalam mengukur isi yang seharusnya. Artinya tes tersebut mampu mengungkapkan isi suatu konsep atau variabel yang hendak diukur. Misalnya tes hasil belajar kimia mengungkapkan hasil belajar kimia.

2) validitas bangun pengertian
Validitas bangun atau bangun pengertian berkenaan dengan kemampuan alat penilaian untuk mengukur pengertian-pengertian yang terkandung dalam materi yang diukurnya. Pengertian-pengertian yang terkandung dalam konsep kemampuan, minat, sikap dalam berbagai bidang kajian harus jelas apa yang hendak diukur. Konsep-konsep tersebut masih abstrak, memerlukan penjabaran yang lebih spesifik sehingga mudah diukur. Ini berarti setiap konsep, bangun pengertian akan tampak sehingga mudah dalam menetapkan alat penilaiannya. Untuk variabel tertentu dimungkinkan penggunaan alat penilaian yang beraneka ragam dengan cara mengukur yang berlainan.

3) validitas prediksi
Validitas ini yang diutamakan bukan isi tes, melainkan kriteria, apakah alat penilaian tersebut dapat digunakan untuk meramalkan suatu ciri, perilaku tertentu atau krteria tertentu yang diinginkan. Misalnya alat penilaian motivasi belajar, apakah dapat digunakan untuk memprediksi prestasi belajar yang dicapai. Artinya terdapat hubungan antara prestasi belajar dan motivasi.

4) validitas kesamaan
Validitas kesamaan suatu tes artinya membuat tes yang memiliki persamaan dengan tes sejesnis yang telah ada atau yang telah dibakukan. Kesamaan tes terlingkupnya kemampuan atau kompetensi yang hendak diukur, sasaran atau objek yang diukur serta waktu yang diperlukan. Validitas kesamaan suatu tes adalah melalui indeks korelasi berdasarkan perhitungan korelasi. Apabila menunjukkan indeks korelasi yang cukup tinggi yaitu mendekati angka satu, berarti tes yang disusun meiliki validitas kesamaan.

b. Reliabilitas
Definisi reliabilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat penilaian dalam menilai apa yang dinilai. Artinya kapanpun alat penilaian itu digunakan akan memberikan hasil yang relatif sama.

Tes hasil belajar dikatakan ajeg jika hasil pengukuran saat ini menunjukkan kesamaan hasil pada saat waktu yang berlainan terhadap siswa yang sama. Misalnya seorang siswa diberi tes pada minggu ini, kemudian minggu selanjutnya diberi tes yang sama, maka hasil yang didapat relatif sama jika tesnya ajeg.

Indeks reliabilitas alat penilaian dapat dicari dengan mengkorelasikan skor-skor yang diperoleh dari hasil penilaian yang berulang-ulang pada waktu yang berbeda atau dengan kelompok pertanyaan yang setara/sepadan. Prosedur ini dilakukan dengan melakukan tes dua kali kepada subjek yang sama pada waktu yang berbeda. Cara kedua adalah dengan membagi tes menjadi dua bagian yang sama atau setaraf untuk melihat keajegan tes tersebut. Cara pertama dikenal reliabilitas dengan tes ulang, cara kedua dikenal dengan reliabilitas tes pecahan sebanding atau setara.

1) reliabilitas tes ulang
Tes ulang adalah penggunaan alat penilaian terhadap subjek yang sama, dilakukan dua kali dalam waktu yang berlainan. Misalnya tes hasil belajar kimia diperiksa minggu ini, kemudian minggu depan diberikan lagi tes ulang. Hasil penilaian pertama dikorelasikan dengan hasil penilaian kedua untuk memperoleh koefesien korelasi (r). Koefesien korelasi ini disebut koefesien korelasi tes ulang yang hasilnya akan berkisar antara -1 sampai +1. Koefesien korelasi yang mendekati angka 1 merupakan indeks reliabilitas tinggi. Artinya hasil pengukuran yang relatif sama dengan hasil pengukuran yang kedua.
Jarak atau waktu antara tes pertama dengan tes kedua sebaiknya jangan terlalu dekat dan jangan terlalu lama.

2) Reliabilitas pecahan setara
Reliabilitas pecahan setara tidak dilakukan dengan pengulangan kepada subjek yang sama, tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes yang sebanding atau setara yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang sama pula. Dengan demikian, diperlukan dua alat tes yang disusun agar memiliki derajat kesamaan atau kesetaraan, baik dari segi isi, tingkat kesukaran, kemampuan atau kompetensi yang diukur, jumlah butir soal, bentuk pertanyaan dan segi teknisnya.

3) Reliabilitas belah dua
Reliabilitas belah dua mirip dengan reliabilitas pecahan setara, terutama dalam pelaksanaannya. Dalam prosedur ini tes diberikan kapada kelompok subjek cukup satu kali. Butir-butir soal dibagi menjadi dua bagian yang sebanding , biasanya dengan membedakan soal nomor genap dengan soal nomor ganjil. Setiap bagian soal diperiksa hasilnya, kemudian skor dari kedua bagian tersebut dikorekasikan untuk memperoleh koefesien korelasinya. Mengingat korelasi tersebut hanya berlaku separuh, tidak untuk seluruh pertanyaan, maka koefesien korelasi yang diperolehnya tidak untuk seluruh soal, tetapi hanya untuk separuhnya. Oleh sebab itu, koefesien korelasi belah dua perlu diubah ke dalam koefesien korelasi untuk seluruh soal dengan menggunakan rumus prediksi Sepearmen Brown:

rxx = koefesien reliabilitas keseluruhan


4) Kesamaan rasional
Kesamaan rasional merupakan salah satu cara atau prosedur menghitung reliabilitas tanpa melakukan korelasi dari dua pengukuran atau pecahan setara dan belah dua. Prosedur ini dilakukan dengan cara menghubungkan setiap butir soal dalam satu tes dengan butir-butir lainnya dalam tes itu sendiri secara keseluruhan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah menggunakan rumus Kuder-Richardson atau KR-21.



rxx = koefesien reliabilitas keseluruhan
K = jumlah butir soal dalam tes
σx2 = variasi skor


Prinsip dan Prosedur Penilaian

Penilaian harus memperhatikan beberapa prinsip dan prosedur. Prinsip penilaian antara lain adalah

a) Dalam menilai hasil belajar hendaknya dirancang sedemikian rupa sehingga jelas kemampuan siswa yang harus dinilai, materi penilaian, alat penilaian dan interpretasi hasil penilaian. Sebagai patokan atau rambu-rambu dalam merancang penilaian hasil belajar adalah kurikulum yang berlaku dan buku pelajaran yang digunakan. Dalam kurikulum hendaknya dipelajari tujuan-tujuan kurikuler dan tujuan instruksionalnya, pokok bahasan yang diberika, ruang lingkup dan urutan penyajian, serta pedoman bagaimana pelaksanaannya.

b) penilaian hasil belajar hendaknya menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar. Artinya penilaian senantiasa dilaksanakan pada setiap saat proses belajar mengajar sehingga pelaksanaannya berkesinambungan. Prinsip ini mengisyaratkan pentingnya penilaian formatif sehingga bermanfaat baik bagi siswa maupun bagi guru.

c) agar diperoleh hasil belajar yang objektif dalam arti menggambarkan prestasi dan kemampuan siswa sebagaimana adanya, penilaian harus menggunakan berbagai alat penilaian dan sifatnya komprehensif. Dengan sifat komprehensif dimaksudkan segi atau kemampuan/kompetensi yang dinilai tidak hanya ranah kognitif, tetapi juga ranah afektif dan ranah psikomotor. Dalam penilaian ranah kognitif hendak mencakup dimensi pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi serta dimensi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan metakognitif.

d) penilaian hasil belajar hendaknya diikuti dengan tindak lanjut. Data hasil penilaian sangat bermanfaat bagi guru maupun bagi siswa. Oleh karena itu, perlu dicatat secara teratur dalam catatan khusus mengenai kemajuan siswa. Demikian juga data hasil penilaian harus dapat ditafsirkan sehingga guru dapat memahami para siswanya, terutama prestasi dan kemampuan yang dicapainya.Bahkan jika mungkin guru dapat memprediksi kemampuan dan prestasi siswa di masa mendatang. Hasil penilaian juga hendaknya digunakan untuk memperbaiki program pengajaran, memperbaiki kelemahan-kelemahan pengajaran dan memberikan bimbingan belajar bagi siswa yang belum berhasil. Dapat juga digunakan untuk memperbaiki alat penilaian itu sendiri.

Prosedur dalam melaksanakan proses penilaian antara lain adalah

a) merumuskan atau mempertegas tujuan-tujuan pengajaran. Mengingat fungsi penilaian hasil belajar adalah mengukur tercapai tidaknya tujuan pengajaran, maka perlu dilakukan upaya mempertegas tujuan pengajaran sehingga dapat memberikan arah terhadap penyusunan alat penilaian.

b) mengkaji kembali materi pengajaran berdasarkan kurikulum dan silabus mata pelajaran. Hal ini penting mengingat isi tes atau pertanyaan penilaian berkenaan dengan bahan pengajaran yang diberikan. Penguasaan materi pengajaran sesuai dengan tujuan-tujuan pengajaran merupakan isi dan sasaran penilaian hasil belajar.

c) menyusun alat penilaian (tes dan nontes) yang cocok untuk menilai perubahan tingkah laku yang diharapkan yang dideskripsikan dalam tujuan pengajaran. Dalam menyusun alat penialaian hendaknya memperhatikan kaidah-kaidah penulisan soal.

d) Menggunakan hasil-hasil penilaian sesuai dengan tujuan penilaian tersebut, yaitu untuk kepentingan pendeskripsian kemampuan siswa, kepentingan perbaikan pengajaran, kepentingan bimbingan belajar dan kepentingan laporan pertanggungjawaban pendidikan.

Berkenaan dengan butir (c), kaidah-kaidah yang harus dipoerhatikan adalah

1) menelaah kurikulum dan buku pelajaran agar dapat ditentukan lingkup pertanyaan, terutama materi pelajaran baik luasnya maupun kedalamannya.

2) merumuskan tujuan instruksional khusus sehingga jelas deskripsi kemampuan atau kompetensi yang harus dinilai. Tujuan instruksional khusus harus dirumuskan secara operasional, artinya bisa diukur dengan alat penilaian yang digunakan.

3) membuat kisi-kisi alat penilaian. Dalam kisi-kisi harus tampak kemampuan atau kompetensi yang diukur serta proporsinya, tingkat kesulitan soal dan proporsinya, jenis alat penilaian yang digunakan, jumlah soal dan perkiraan waktu yang diperlukan untuk mengerjakan soal.

4) menyusun atau menulis soal-soal berdasarkan kisi-kisi yang telah dibuat. Dalam menulis soal perhatikan aturan-aturan yang berlaku.

5) membuat dan menentukan kunci jawaban soal.